Analogi Pasar dalam Pemilu


Akhir tahun 2015 nanti, 9 Provinsi dan 260 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia akan melaksanakan PEMILU Kepala Daerah serentak yang tetap dipilih langsung oleh rakyat, sesuai ketetapan UU PEMILU  yang telah disahkan oleh DPR-RI pada awal tahun 2015.

Pesta demokrasi ini masih cukup lama pelaksanaannya tetapi konstalasi politik yang dibangun melalui partai-partai politik sampai di warung-warung kopi sangat hangat sekali. Pemberitaan di media sudah berhamburan dimana-mana, apakah itu media elektronik dan surat kabar membuat temperatur dari hangat menjadi panas. Partai politik pun sibuk melakukan lobi-lobi politik, menyaring dan mempersiapkan para calon mereka.

Layaknya pasar yang sangat ramai dengan penjual-pembeli, seperti itulah kesibukan menjelang pemilu di negeri ini. Penjual yang sibuk menawarkan dagangannya kepada pembeli agar tertarik membeli barang dagangannya. Kalau kita menghubungkan dengan pemilu, kita bisa membuat sebuah analogi sederhana bahwa pemilu itu seperti pasar, dimana penjual itu sebagai calon Kepala Daerah dan pembeli adalah pemilih.

Para calon Kepala Daerah sebagai penjual akan mempersiapkan barang apa yang akan mereka tawarkan dan sistem marketing yang bagaimana agar pembeli tertarik untuk membeli. Entahkah itu janji-janji palsu yang dibungkus dalam kresek kepalsuan mereka. Contoh yang sangat konfensional yaitu menawarkan pendidikan gratis, pelayanan kesehatan yang quick, fast and free, harga kebutuhan pokok yang murah, yang intinya menebarkan penyakit diabetes-politik lah, memberikan janji-janji manis kepada pembeli agar memilihnya. Di saat terpilih, beberapa calon melupakan janji-janji manis tadi. Akhirnya pembeli kecewa dan prustasi lalu terserang penyakit diabetes politik akibat terlalu banyaknya janji-janji manis yang mereka konsumsi dan tak kunjung menjadi realita.

Tak banyak juga pembeli yang tertipu dengan keahlian beberapa penjual-penjual yang nakal, barang yang mereka beli tidak sesuai dengan yang mereka dengar dan liat langsung dari penjual tadi. Uang (hak suara) yang mereka berikan hilang percuma.

Tetapi ada juga pembeli yang sangat pintar memilih penjual mana yang tepat karena mereka memiliki kriteria dalam memilih pembeli dan barang dagangan. Seperti melihat rekam jejak

, apakah penjual itu baik dan jujur, barang yang dia tawarkan sesuai dengan yang dikatakan serta peran penjual tersebut dalam lingkungan pasar memberikan efek yang baik dan luas untuk seluruh komponen di dalamnya. Pembeli-pembeli seperti ini kemungkinannya sangat kecil bisa tertipu.

Pasar yang menjadi tempat perputaran ekonomi (jual-beli) juga hampir sama dengan perputaran transaksi jual-beli dalam pemilu, seperti transaksi yang dilakukan oleh beberapa calon Kepala Daerah dengan Pengurus Partai Politik untuk mendapatkan kendaraan yang cukup sebagai syarat utama mencalonkan dirinya dalam pesta akbar yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Partai politik sebagai lembaga aspirasi masyarakat dijadikan komuditi jual-beli yang sangat tinggi harganya. Tetapi ada hukum yang berbeda dalam transaksi jual-beli partai politik yaitu semakin banyak kursi partai di parlemen semakin tinggi harga partai politik itu. Berbeda dengan hukum harga di pasar, semakin banyak barang (produk) di pasaran maka harganya akan turun. Itulah beberapa persamaan dan sedikit perbedaan antara PEMILU dan PASAR.

Pemilu adalah sistem yang dibentuk dalam Negara yang menganut paham demokrasi diperuntukkan untuk rakyat guna mempertegas bahwa Negara adalah milik Rakyat dan siapapun yang menjadi pemimpin harus mendengar dan melaksanakan amanah dari rakyat. Pemilu bukan sistem yang dibentuk sebagai ajang kompetisi kandidat dan pendukung yang lebih memajukan ego akan kekuasaan, tetapi lebih kepada ajang silaturahmi antar kandidat dengan kandidat, pendukung dengan pendukung guna mendewasakan komponen dalam pemilu serta sistem demokrasi yang sangat muda usianya di negeri ini. Jadi, Mari gunakan sistem ini dengan baik dan arif untuk memilih pemimpin yang amah, jadilah pembeli (pemilih) yang cerdas dan ikut aktif dalam proses pendewasaan demokrasi di negeri ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s