BOLA API


Hari ke-3 Ramadhan, agenda organisasi di kampung halaman memaksa saya untuk segera pulang. Rasa senang dan rindu untuk bertemu keluarga menyemangati fisik yang lesu, yang akan menempuh perjalanan 4 jam dari Butta Daeng ke Butta Panrita Lopi. Tepat pukul 16.15, deru mesin motorku telah melintasi jalur utama Makassar-Gowa. Dengan kecepatan rata-rata 80km/jam kunikmati hembusan angin dan suguhan panorama jalan yang kulintasi. Kabupaten Gowa terlewati dengan kemacetan yang cukup padat, Kabupaten selanjutnya (Takalar) aman-lancar, memasuki kabupaten Bantaeng selalu membuat otot-otot di badan ini merasa segar kembali karena suguhan kota yang asri, indah dan bersih. Sekitar 30 menit waktu tempuh dari Pusat Kota Bantaeng, saya sudah memasuki Kabupaten Bulukumba.

Sesampainya di pusat Kota Bulukumba, adzan magrib menggema di setiap masjid yang terlalui dan waktunya saya membatalkan puasa dengan sebotol air mineral dan sebungkus roti. Sambil menikmati menu sederhana ini, kuperhatikan jam tanganku. Di luar dugaan, mungkin terlalu larut dalam kenikmatan berkendara, tidak terasa Makassar-Bulukumba bisa kutempuh hanya dalam 2 jam 45 menit, yang seharusnya waktu tempuh tercepat dalam waktu 3 jam.

Setelah menikmati menu berbuka puasa yang sederhana, kulanjutkan perjalanan menuju rumah. Hanya dalam waktu 15 menit, kendaraanku sudah memasuki garasi rumah karena jarak rumah dengan pusat Kota hanya berjarak 3 km. Lelah, haus dan lapar seketika hilang melihat senyum orang tua yang menyambut anaknya datang. Hal pertama yang selalu di ucapkan oleh ibuku “kubuatkanko kopi Nak?”. Dan tidak sekalipun saya menjawab “tidak”.

Ketika menunggu kopi buatan Ibu, perhatianku tertuju pada anak-anak yang asik bermain di depan rumah. Seperti ada kobaran api yang menjilat-jilat pagar rumah, ternyata kobaran api itu berasal dari bola api yang dimainkan oleh anak-anak itu. Yah bola api, bukan bola api doti (santet). Tapi bola api yang digunakan dalam permainan tradisional, yang terbuat dari tanah liat dibentuk bulat menyerupai bola tenis lalu dikeringkan. Setelah itu harus direndam dengan minyak tanah beberapa malam, agar minyak meresap dan mudah terbakar nantinya untuk dimainkan.

Bola api sangat jarang dimainkan anak-anak sekarang. Dalam 7 tahun terakhir baru pertama kali ini, saya melihat bola api dimainkan lagi. Aturan permainannya pun sederhana, hampir mirip dengan sepakbola hanya berbeda pada jumlah pemain. Batas maksimal pemain dalam permainan ini sejumlah 5 orang. Tanpa canggung saya ikut bermain dengan anak-anak ini, pikiran ini melayang kembali diumur seperti mereka. Dimana waktu itu yang hanya kita pikirkan; permainan apa yang akan kita mainkan keesokan harinya dan mainan dari apa yang akan kita buat selanjutnya.

Permainan ini sangat istimewa, karena bola api hanya ada (dimainkan) pada bulan Ramadhan, entah mengapa diluar bulan itu, permainan ini tidak asyik dimainkan. Salah satu yang mempengaruhi, mungkin karena setiap bulan memiliki item permainan yang berbeda. Misalnya bulan Ramadhan, asyik bermain bola api, setelah Ramadhan mencari dan bermain jangkrik, bulan selanjutnya bermain karet dan pada masa panen padi bermain layangan dan seterusnya.

Sayangnya sekarang, permainan tardisional dimasa kecil dulu sangat langkah ditemui. Mungkin karena anak-anak jaman sekarang disuguhkan barang dan mainan instan (barang jadi) yang dapat langsung digunakan dan dimainkan (permainan modern). Beda halnya dengan generasi 80-an, 90-an atau 2000-an awal, mainan yang dihasilkan dari buah tangan sendiri. Perilaku konsumtif sangat sedikit dibandingkan perilaku produktif (memproduksi). Bisa jadi juga daya beli anak-anak jaman dulu sangat lemah, ini memaksa mereka untuk lebih kreatif untuk memproduksi mainan mereka sendiri. Jadi sederhananya “kalau mau bermaian, yah harus buat juga” (operari ergo sum). Kalau sekarang berbeda “kalau mau main, beli dulu” (consumo ergo sum).

Kurang lebih 15 menit bermain dengan anak-anak itu menyegarkan dahaga akan nostalgia masa kecil yang penuh canda, tawa, dan kegemberiaan bermain dengan mainan yang kami ciptakan sendiri. “Terima kasih bocah-bocah desaku, 15 menit bermain dengan kalian me-recall memori 15 tahun yang lalu”, kuucapkan dalam hati sambil menikmati kopi buatan Ibu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s