SA’ : Sebuah Simbol Kehidupan


Paseng
sadda mappabbati’ ada
ada mappabbati’ gau’
gau’ mappabbati tau

Bentuk tidak sekedar bentuk saja, Bentuk mengartikan hal yang esensial dalam kompleksitasnya. Pencarian pertama tentang esensi dari sebuah simbol berawal ketika berumur 12 tahun. Masih sangat jelas terekam. 23 Juni 2002, itu hari ke-5 sebelum pesta pernikahan tante. Sanak keluarga sudah datang dari berbagai daerah mulai dari ujung selatan, utara, barat sampai timur Sulawesi dan beberapa wilayah Jawa. Rumah kerabat yang berada di dekat rumah nenek tidak seperti biasanya yang sunyi seperti tidak ada penghuni didalamnya, hanya dalam hitungan jam berubah menjadi sesak dengan canda, tawa dan tegur-sapa.

Rumah nenek yang menjadi pusat aktivitas untuk acara sakral ini tidak kalah riuhnya, suara gesekan kayu dengan pisau kala mencincang daging dan sayur terdengar dari dapur. Dentuman bongkahan kayu karena hantaman kapak terdengar di halaman rumah, sesekali dihebohkan dengan suara para pria yang tertawa sambil menikmati pahitnya kopi di sela-sela istirahat. Ruang keluarga tidak kalah riuhnya, pallamming (ahli dekorasi pernikahan Bugis-Makassar) dengan gaya khasnya sesekali bercanda dengan tante yang sibuk mengatur busana pernikahannya.

Tetapi dari semua keriuhan dan kegembiraan yang ada, mataku teralihkan ke satu kelompok orang tua yang sangat teliti meraut dan menganyam helai demi helai rautan bambu kedalam bingkai bambu berbentuk persegi panjang. Bertanya dalam hati “apa nakerja itu etta nenek (sapaan untuk kakek)?” rasa penasaran membawa kaki untuk lebih dekat melihat aktivitas yang terjadi. Agar berterima dalam kegiatan itu, kubuka dengan pertanyaan

“Etta nenek… Apa kita kerja?”

“lagi kerja bola suji nak” beliau kaget dengan kedatangan dan pertanyaanku yang tiba-tiba muncul.

“untuk apa itu bola suji?”

“untuk acaranya tantemu, itu harus ada kalau pesta pernikahan” jawab beliau.

Tapi pertanyaanku tidak sampai disitu saja, karena mata ini mengamati detail anyaman yang terpasang dalam bingkai bambu. Baris-baris diagonal saling menyilang yang terdiri dari beberapa batang rautan bambu dan di tengah membentuk sebuah belah ketupat, mengundang pertanyaan dikepalaku. Spontan saja mulut ini bertanya lagi.

“Etta nenek… kenapa bentuknya seperti itu?, ada bocor di tengah seperti bentuk ketupat, kenapa tidak ditutup semua?”

“tidak boleh nak ditutup semua, ada maksudnya itu bentuk ketupat”

Mungkin melihat wajahku yang kebingungan dengan jawabannya, beliau melanjutkan penjelasannnya

“maksudnya itu bentuk (simbol) nak, pernikahan itu menjadikan satu dalam keluarga antara laki-laki sama perempuan, kayak om sama tantemu nanti”

“oh… begitu etta nenek” jawabku kebingungan.

Proses Pembuatan Bola Suji/Wala Suji

Entah kenapa, tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulutku setelah beliau mengucapkan kalimat terakhir. Mungkin usia pada saat itu yang tidak bisa menangkap jelas, apa yang dimaksud penyatuan antara laki-laki dan perempuan menjadi satu dalam keluarga. Tanpa pamit kepada beliau, saya berlari menuju ke arah sepupu-sepupu yang sedang asik main lompat karet.

Itu terakhir kalinya saya bertanya kepada beliau tentang maksud dari bentuk belah ketupat. Setelah waktu itu, pernah beberapa kali saya melihat beliau mengerjakan bola suji lagi, tetapi saya hanya duduk dan mengamati disampingnya tanpa bertanya satu pertanyaan pun.

Bola suji atau beberapa daerah bugis menyebutnya Wala Suji yaitu sebuah gerbang yang bentuknya seperti gapura tetapi menyerupai bagian depan rumah panggung suku Bugis-Makassar. Atapnya berbentuk segitiga dan disangga rangkaian anyaman bambu. Sebagai penghias, tak lupa diberi janur kuning. Bola suji ini selalu dihadirkan dalam setiap acara pernikahan dalam adat Bugis maupun Makassar.

***

Belasan tahun berlalu sejak saya menanyakan tentang maksud dari bentuk belah ketupat yang ada dalam konstruksi bola suji. Dan penjelasan tentang makna tersebut, banyak saya temukan dalam diskusi-diskusi ringan bersama teman-teman yang mengerti bahasa dan kesusasteraan Bugis-Makassar dan beberapa literasi yang menjelaskan simbol tersebut.

Ternyata bentuk (simbol) belah ketupat itu adalah aksara lontara’. Menurut Prof. Mattulada dalam bukunya Latoa, belah ketupat itu merupakan huruf sa yang berarti seua (tunggal atau esa). Simbol sa ini, dalam menyimbolkan mikrokosmos/sulapa’ eppa’na taue (segi empat tubuh manusia), di puncak terletak kepalanya, disisi kiri dan kanan adalah tangannya, dan ujung bawah adalah kakinya.

Simbol sa ini juga, menyatakan diri secara konkrit pada bahagian kepala manusia yang disebut “sauang”, berarti mulut atau tempat keluar. Menurut masyarakat Bugis-Makassar terdahulu, dari mulutlah segala sesuatu dinyatakan (diucapkan) maka menghasilkan sadda (bunyi). Bunyi-bunyi itu disusun sehinggah mempunyai makna yang disebut ada (kata, sabda atau titah). Dari ada yang menjadi pangkal kata ade’ (adat, sabda atau aturan). Dari ade’ inilah segala sesuatu di alam (kehidupan) ini diatur. Dan demikian pulalah segala tanda-tanda bunyi dalam aksara lontara’ bersumber dari sa (belah ketupat).

Sungguh sangat kompleks dan membingungkan penjelasan dari 1 (satu) simbol ini, pantas kakek menjelaskan hanya seperti itu. Tetapi penjelasan beliau bisa ada hubungannya dengan penejelasan Prof. Mattulada, mereka sama-sama menjelaskan tentang ‘satu/tunggal’. Pernikahan yang terdiri dari 2 (dua) manusia yang berbeda jenis kelamin disatukan dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Pernikahan diperuntukkan sebagai penguatan 2 (dua) manusia untuk menuju yang satu, tunggal atau esa (Tuhan). Penjelasan ini mungkin lebih sederhana dibandingkan penejelasan dari Prof. Mattulada yang menyentuh mikrokosmos. Seandainya kakek menjelaskan dengan segala kompleksitas di dalamnya pada saat itu, mungkin saya akan memakan sisa-sisa rautan bambu dari bola suji yang dibuatnya, berharap bisa mengerti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s