Si-Cowboy Bercerita : Apparalang & Bili’iyya


Apparalang, siapa yang tidak mengenal tempat wisata ini khususnya masyarakat Bulukumba. Sebuah objek wisata yang terletak di selatan provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di Desa Ara Kec. Bontobahari, Kab. Bulukumba. Tempat ini menyuguhkan tebing-tebing karang eksotis yang memecah ombak dari teluk Bone dan laut Flores serta terdapat juga sebuah dermaga kecil yang menjadi primadona pengunjung tempat ini.

Diawal tahun 2015, tempat ini semakin banyak didatangi pengunjung tidak hanya dari daerah Bulukumba tetapi juga dari daerah/kota di luar Bulukumba. Ditambah lagi salah satu rumah produksi pernah membuat sebuah film tentang tempat ini dan kita tahu bersama kekuatan dari media, yang mengakibatkan kuantitas pengunjung meningkat secara drastis.

Saya tidak ingin menceritakan tentang aktris, aktor dan alur cerita dalam film garapan salah satu rumah produksi ini, tetapi lebih menceritakan histori dari Apparalang yang tidak sengaja saya dapatkan ketika menikmati secangkir kopi bersama Si-Cowboy dari Desa Ara.

***

Cerita ini berawal pada bulan Juni 2015, teman-teman yang bergabung dalam sebuah komunitas di Makassar mendapatkan undangan untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu anggota dalam komunitas ini. Udangan pesta pernikahan tersebut dilaksanakan disalah satu desa di Kabupaten Bulukumba.

Saya bersama beberapa teman berangkat dari Makassar sekitar pukul 01.00 dini hari dengan pertimbangan tiba di Bulukumba di pagi harinya. Dalam perjalanan, kami menyepakati untuk berkunjung ke salah satu objek wisata yang lagi panas-panasnya diperbincangkan oleh nitizen dibeberapa media sosial yaitu Apparalang. Tetapi saya pribadi menolak pada saat teman-teman mendiskusikan lokasi untuk berwisata

“jangan meki ke Apparalang, menyesal jeki itu kalau kesana. Kah tebing karangji sama itu dermaga kecilnya, mendingan cari lokasi yang lain, Bara kah atau Samboang” ucapku dengan nada sinis.

Salah satu teman menanggapi pernyataan yang saya lontarkan,

“Bisaki bilang begitu kita sir, karena sering meki kesana. Kita kodong yang belum pernah ke sana, penasaranki dengan foto-foto yang di media sosial, keren-keren semua fotonya”

“Ok… kalau begitu Ms, kita ke Apparalang setelah pestanya Mr.Sakti” jawabku.

Singkat cerita, saya beserta rombongan tiba pukul 05.30 dini hari di Bulukumba. Kediamanku menjadi lokasi istrahat sebelum berangkat ke lokasi pesta. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.25, menandakan kami harus siap-siap berangkat. Tepat pukul 12.00, kami berangkat dan sampai di lokasi pukul 13.00. Perjalanan cukup menyita waktu karena lokasinya berada dekat perbatasan Bulukumba-Sinjai. Sekitar dua jam lebih kami di lokasi pernikahan, menyaksikan acara adat pernikahan sampai kedua mempelai duduk di pelaminan. Setelah memberikan kado di atas pelaminan dan foto bersama, kami beranjak pulang kerumah untuk bersiap-siap menuju Apparalang.

***

Sore hari setelah cukup beristirahat, kami lanjutkan perjalanan menuju Apparalang. Tepat pukul 16.00, kendaraan sudah melintasi pusat kota Bulukumba. Di dalam hati berkata “terlambatki berangkat, pasti dapatki malam ini”, karena waktu tempuh normal ke tempat itu sekitar enam puluh menit dari rumah berarti kami akan tiba sekitar pukul 17.30. Pedal gas kuinjak semakin dalam berharap bisa lebih cepat tiba di lokasi.

Dan dugaanku tepat, kami tiba sekitar waktu perkiraan itu. Tempat parkir sudah tidak ada kendaraan, yang tersisa hanya para penjual yang sedang mengemas barang dagangan dan menutup warung-warungnya.

Seorang pria bertopi cowboy lengkap dengan parang di pinggang kirinya menghampiri kami dan bertanya,

“kenapa terlambat sekali datang dek, sudah gelap. Tutupmi juga penjual disini”.

“iye pak, dari pesta pernikahannya teman, jadi terlambat kesini. Setelah ashar baru berangkat dari rumah”. Jawabku sambil berjalan menuju huruf-huruf yang terbuat dari akar kayu membentuk kata Apparalang.

Teman-teman sudah sibuk untuk mengabadikan kunjungannya dengan berfoto di beberapa sudut tempat itu. Salah satu teman bertanya

“Sir, dimana itu dermaga kecilnya”.

“Di ujung sana Ms, lalu turun lewat tangga, disitumi dermaga kecilnya” sambil menunjukkan arah di mana dermaga yang beliau maksud.

Jingga sudah memenuhi awan di sebelah barat, sambil menunggu teman-teman mengabadikan kunjungannya, saya berjalan ke salah satu warung yang lokasinya di dekat tangga turun menuju dermaga. Terlihat seorang Ibu di warung itu, saya menanyakan apakah masih buka atau sudah tutup. Dan Ibu itu menjawab “masih bukaji dek”.

Saya memesan dua gelas berjaga-jaga siapa tahu ada teman yang ingin kopi juga. Ketika Ibu pemilik warung menyajikan kopi yang telah saya pesan, pria bertopi cowboy yang tadi, menghampiri dan duduk di warung itu juga.

Ternyata pria bertopi cowboy ini bernama Pak San, suami dari pemilik warung yang saya tempati. Beliau warga asli di Desa Ara, dari kecil sampai berkeluarga mendiami desa ini. Setelah beliau menjelaskan asal-usulnya, tiba-tiba muncul rasa ingin tahu tentang Apparalang, kubuka pertanyaan kepada beliau

“Pak, baru ini tempat atau sudah ada dari dulu”

Tanpa jeda yang lama beliau menjawab.

“Itu sana dek yang ada tulisan Apparalang, itumi lokasi yang sebetulnya Apparalang,”

“Oh… begitu Pak, jadi mulai dari tempat yang ada tulisan sampai di dermaga itu” kulanjutkan penjelasan Pak San. Tiba-tiba beliau menyanggah

“Bukan dek, kalau yang di dermaga itu bukan Apparalang namanya. Itu namanya Bili’iyya. Jadi beda Apparalang sama Bili’iyya”.

Setelah menyanggah pernyataanku, beliau menjelaskan panjang-lebar tentang Apparalang dan Bili’iyya. Secara fungsi kedua wilayah ini sangat berbeda. Apparalang ditinjau dari fungsinya, sama sekali tidak ada. Hanya sekedar penamaan untuk kontur dari wilayah perairan di daerah itu.

Apparalang berasal dari bahasa Konjo, terdiri dari dua kata yaitu Appa dan Ralang. Appa atau dalam bahasa Bugis malappa/maleppa (daerah yang datar) sedangkan Ralang dalam bahasa Bugis Minraleng (kedalaman). Jadi bisa disimpulkan arti dari Apparalang yaitu daerah perairan yang memiliki kontur di tepian agak datar (dangkal) dan tidak jauh dari laut dangkal itu sudah laut yang memiliki kontur perairan yang sangat dalam. Dan dari luasnya, daerah dangkal sangat kecil wilayahnya, mungkin hanya sekitar 15-20 meter dari tebing karang setelah itu sudah memasuki laut dalam. Ini bisa terlihat dari warna air lautnya. Air laut yang biru cerah menandakan daerah yang terbilang dangkal sedangkan biru gelap sudah termasuk perairan yang dalam.

Sumber Gambar: koranghutan.wordpress.com

Selanjutnya Pak San menjelaskan tentang Bili’iyya yang di dalamnya terdapat sebuah dermaga kecil. Kata ini berasal juga dari bahasa Konjo terdiri dari kata Bili’ dan iyya adalah akhiran kata dalam bahasa konjo. Bili’ dalam bahasa Konjo bisa diartikan sebagai kamar atau ruangan sedangkan iyya adalah akhiran dalam bahasa Konjo yang menandakan suatu lokasi atau tempat yang dikenali atau dengan kata lain penekanan pada lokasi yang diketahui. Beliau menjelaskan pengertian apabila dua bagian digabungkan yaitu suatu lokasi yang berbentuk ruangan atau kamar.

 Sumber Gambar : http://www.wego.co.id

Saya sempat bingung dengan penejalasan Pak San tentang Bili’iyya, apa hubungan laut dengan ruangan atau kamar. Sempat terlintas dipikiranku, mungkin ini tempat istrahat Ratu Pantai Selatan. Tidak mau pusing memikirkan sendiri, saya bertanya pada Pak San tentang hubungan dari pengertian Bili’iyya dengan laut. Sambil tersenyum beliau melanjutkan penjelasan. Pemberian nama itu dilihat dari fungsi lokasinya. Pada jaman kerjaan, lokasi ini dijadikan tempat berlabuh para pelaut dari Bugis, Makkasar juga dari Selayar ketika terjadi badai di wilayah perairan Teluk Bone dan Laut Flores. Billi’iyya ini sebagai ruang untuk lego jangkar kapal-kapal yang menghindari badai tersebut.

Penjelasan ini sudah bisa diterima oleh akalku, dapat terlihat dari bentuknya seperti setengah lingkaran menyerupai teluk kecil dan dari ukurannya bisa menjadi tempat berlabuh kapal-kapal seukuran kapal feri. Jadi Apparalang degan Bili’iyya itu berbeda. Hanya saja Billi’iyya masuk dalam wilayah wisata Apparalang. Seperti halnya Gunung Bromo dan Gunung Sumeru itu berbeda tetapi satu kawasan dalam Taman Nasional Bromo.

Tak lama setelah berbincang bersama Pak San tentang Apparalang dan Bili’iyya, teman mengajak untuk beranjak dari tempat itu. Pertimbangan karena hari sudah gelap dan jalur keluar dari lokasi itu, kendaraan harus melintasi hutan yang cukup lebat tanpa penerangan disekitarnya. Saya pun berpamitan dengan Pak San serta berterima kasih atas cerita yang sangat berharga dari beliau. Beliau menanggapi dengan mengundang ke warungnya lagi apabila berkunjung ke Apparalang. #SebulanNgeblog

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s