Tahun 3 : Mula & Proses


Lao sappa deceng, lisu mappadeceng”, sebuah falsafah kehidupan masyarakat Bugis yang bermakna sebuah pencarian arti kehidupan dengan merantau di luar tanah Bugis. Secara harfiah kalimat ini bermakna “pergi untuk mencari kebaikan, setelah itu kembali untuk menyebarkan kebaikan”. Falsafah ini juga lah yang menjadi pondasi anak-anak muda yang tergabung dalam Forum Kampung Bahasa Sulawesi. Sekumpulan anak-anak muda yang memiliki gagasan yang gila dan liar untuk melakukan hal kecil dalam tatanan kehidupan Indonesia yang masih mencari bentuk ideal sebagai salah satu Negara dengan asas demokrasi.

Semua berawal di akhir tahun 2010 tepatnya pada bulan Agustus. Desa kecil yang berada di bagian timur pulau jawa mempertemukan semangat dan visi besar itu. Kampung Inggris Pare, tempat inilah yang mempertemukan kami. Niatan pertama ke desa ini murni untuk menambah pengetahuan tentang bahasa Inggris. Tetapi dalam perjalan mengarungi samudera ilmu di desa itu, kami dihadapkan dengan ketimpangan sosial yang ada. Beberapa contohnya yaitu desa yang dulunya dikenal sebagai desa yang religius telah terkikis sedikit demi sedikit oleh gaya hidup pendatang (siswa yang datang belajar), harga kursusan yang mahal dan masih banyak lainnya ketimpangan sosial yang terjadi.

Kegelisahan mempertemukan beberapa anak muda pada saat itu bersepakat untuk membuat sebuah gerakan yang bertujuan sebagai penjaga nilai, nilai yang menjadi pondasi pendiri Kampung Inggris Pare yaitu pendidikan yang bisa diakses oleh siapapun, ekonomi yang bertumpu pada masyarakat itu sendiri dan sebuah tatanan masyarakat yang religius.

Berawal dari kegelisahan dan pertemuan sebuah visi untuk menjaga nilai-nilai luhur yang terdapat di Desa Pare, anak-anak muda ini mengambil langkah kecil untuk membendung dan mencari jalan keluar dengan mengadakan diskusi setiap akhir pecan. Beberapa pemilik kursusan dan organisasi pemuda diikut sertakan dalam diskusi ini. Hari ke hari, pekan ke pecan, diskusi ini semakin masif dilakukan dan mengundang minat yang luar biasa. Tema-tema diskusi yang diangkat cukup berwarna, seperti sosial, politik, pendidikan, budaya dan agama. Tema-tema ini didesain agar pemilik kursusan, siswa dan masyarakat peka akan realita sosial yang terjadi dalam komunitasnya (masyarakat). Dari gerakan ini juga mengeluarkan beberapa rekomendasi, salah satu isu besarnya adalah pendirian Kampung Bahasa di Pulau Sulawesi.

***

Tahun 2013, rekomendasi dari gerakan yang dimulai pada tahun 2010 akhirnya mendapatkan titik awal untuk mengolah isu tentang Kampung Bahasa Sulawesi. Itu bermula ketika buku saudara Andi Zulkarnain yang berjudul “Pare dan Catatan Tak Usai” dan dilakukannya diskusi publik dan bedah buku pertama di Politeknik Ujung Pandang. Kami bertemu kembali dan mencoba mempersiapkan langkah kongkret untuk pendirian Kampung Bahasa Sulawesi. Teringat kalimat saudara Andi Zulkarnain bahwa orang-orang yang memiliki visi yang sama akan selalu dipertemukan pada garis perjuangan. Garis perjuangan untuk mendirikan Kampung Bahasa pun kami lanjutkan setelah membentuk forum. Forum ini dinamai Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS) dengan 5 pilar nilainya “Pendidikan yang murah, merakyat, berkualitas, berkarakter dan religius”. Forum ini pun mulai bergerak menyampaikan berita pendirian Kampung Bahasa dengan melakukan diskusi publik dan bedah buku dimulai dari Kota Pare-Pare, Sidrap lalu Kabupaten Bone. Diskusi publik ini dilakukan untuk menyampaikan niatan baik pendirian Kampung Bahasa Sulawesi. Dan hasil dari diskusi publik keliling tersebut menunjukkan bahwa respon masyarakat di Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan sangat berterima dengan niatan tersebut.

Di akhir 2013, survei lokasi untuk pendirian Kampung Bahasa pun dilakukan. Kabupaten Bantaeng, Bulukumba, Maros, Pangkep, Pare-Pare merupakan daerah yang menjadi lokasi tujuan survei. Setelah melaporkan hasil dari lapangan dengan beberapa indikator kelayakan, maka Kabupaten Bulukumba menjadi lokasi yang akan dijadikan contoh Kampung Bahasa, tepatnya berada di Desa Bontotangnga, Kecamatan Bonto Tiro. Pra kondisi dilakukan selama 3 bulan dengan mendatangkan siswa-siswa yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Antusias aparat desa, masyarakat dan siswa yang datang sangatlah baik, tetapi terkendala pada sumber daya manusia untuk mengawal tahapan-tahapan untuk Kampung Bahasa. Maka pada awal tahun 2014, tim memutuskan untuk lebih fokus di Ibu Kota provinsi yaitu di kota Makassar.

Di Makassar, FKBS berkembang dengan visi pendidikannya. Sekolah Islam Athirah dan Kalla Group melirik gerakan anak-anak muda yang bergabung di dalamnya. Terlihat dari kerja sama yang dilakukan dengan Sekolah Islam Athirah pada program peningkatan kemampuan berbahasa Inggris untuk manajemen dan orang tua siswa. Lalu berlanjut pada rekrutmen karyawan dan karyawati Kalla Group dimana FKBS sebagai pelaksana tunggal seleksi TOEFL (Test of English as a Foreign Language). Walaupun fokus di Makassar, tetapi tim tetap mempersiapkan langkah-langkah untuk Kampung Bahasa Sulawesi yang lebih matang nantinya.

FKBS hadir di Makassar merupakan warna tersendiri, ciri yang unik, gerakan yang aktif. FKBS merupakan antitesis dari lembaga-lembaga pendidikan yang sangat elitis. Mungkin juga FKBS menjadi ancaman bagi mereka, yang mencoba mengobrak-abrik pasar yang sangat menjanjikan. Itulah salah satu semangat yang dibawa oleh orang-orang yang bergabung dalam Forum Kampung Bahasa Sulawesi, mencoba mengobrak-abrik lembaga yang elitis dan memberikan contoh bahwa pendidikan itu tidak harus mahal, pendidikan harus dapat dinikmati oleh siapa saja, entahkah kau miskin, kaya, anak pejabat atau anak tukang sayur. Bagi FKBS, pendidikan yah seperti itu. Bisa diakses oleh siapa saja, memiliki kualitas yang baik walaupun murah, memiliki karakter walaupun santai pembawaannya dalam proses belajar.

Dan yang paling penting, FKBS hadir sebagai lembaga pendidikan yang terfokus pada pengembangan kemampuan bahasa Inggris mencoba menyampaikan bahwa bahasa Inggris itu hanya alat untuk memperjuangkan hak-hak hidup orang yang tertindas, sebagai alat untuk meningkatkan taraf hidup manusia, juga sebagai alat untuk mendukung pemerintah yang pro rakyat bukan sebagai alat untuk mencapai ambisi individu dan menjilat pada pemerintah yang zalim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s