Pemuda, Komunitas & Media Sosial


Setiap masa akan melahirkan kaum mudanya sendiri
dengan visi besar yang sama dari masa ke masa
tetapi dengan gerakan yang berbeda.

Memori ini masih tajam mengingat  tahun-tahun pertama memulai aktifitas sebagai mahasiswa baru di Makassar. Ketika itu perilaku anak muda lebih kepada trend yang sangat konsumtif untuk pemenuhan lifestyle yang sangat menghipnosis, consume ergo sum (aku membeli maka aku ada), begitulah pengamatan pribadi pada saat itu. Contoh yang sangat sederhana pemenuhan kebutuhan baju, celana, sepatu, dan segala aksesoris yang bermerek. Merek-merek yang digunakan pasti merek dari luar atau merek distro yang terkenal di Indonesia. Jadi persepsi yang terbangun di kelompok muda pada tahun-tahun itu, bahkan sekarang pun mungkin masih ada persepsi seperti ini, “kamu tidak gaul, if you don’t wear the brand.

Saya pernah mendapati sebuah fakta yang menarik tentang perilaku konsumtif terhadap gaya hidup anak muda saat itu. Waktu itu saya diskusi lepas bersama salah satu teman di salah satu kedai kopi di Bulukumba. Seorang sahabat yang sangat saya kenal sejak SMA dan sangat saya tahu bahwa dia salah satu pembeli yang sangat saleh dari barang-barang bermerek.

Saya menanyakan alasan mengapa dia selalu membeli barang-barang yang terhitung mahal. Dia  menyatakan sebuah motif bahwa ada sebuah prestise ketika badannya dilabeli dengan merek-merek terkenal itu. Kepercayaan diri terbangun karena dia berterima di kelompok-kelompok menengah ke atas dengan label-label mereka kenakan. Tanpa disadari pemuda pada masa itu merupakan golongan muda yang sangat konsumtif.

***

Berbeda setelah millennium memasuki satu dekade, adanya perubahan perilaku dari konsumtif menjadi produktif. Perubahan perilaku dari konsumtif ke produktif yang dimaksud kecenderungan golongan muda untuk membentuk ataupun terlibat dalam komunitas yang menjadi wadah pengembangan dan penerapan ide, kreatifitas serta kemampuan untuk memberikan efek positif ke masyarakat. Sebenarnya gerakan yang sejenis telah ada dari masa ke masa di Indonesia seperti pergerakan golongan muda pra dan pasca kemerdekaan serta gerakan reformasi di era orde baru.

Tetapi ada perbedaan dari gerakan golongan muda dari ketiga masa tersebut. Di era pra dan pasca kemerdekaan, pemuda lebih kepada gerakan pembebasan kolonialisme dan perbaikan sistem kenegaraan setelah merdeka. Gerakan pemuda di era orde baru lebih kepada perlawanan pemerintahan yang diktator dan korup, menuntut adanya reformasi-demokrasi yang lebih baik. Dan sekarang, gerakan yang dibangun oleh pemuda lebih kepada pencerahan dan pergerakan yang lebih fokus pada pelibatan diri atau komunitas di tingkatan grass root.

Meskipun perilaku ini sudah memulai terlihat pada tahun 2009 tetapi perubahan itu belum berkembang dan bergerak secara masif. Memasuki 2011 sangat jelas terlihat perkembangan komunitas yang mengisi ruang-ruang sosial yang kosong di kota Makassar. Pada tahun 2015, Makassar memiliki 152 komunitas sesuai dengan data PKM (Pesta Komunitas Makassar) 2015.

Grafik jumlah komunitas dari tahu 1996-2015

Apabila merunut dari data PKM 2015, dapat terlihat dari tahun berdirinya semua komunitas yang bergabung dalam acara ini, maka harus dimulai dari tahun 1996-2015. Sebelum memasuki satu dekade millennium sangat sedikit komunitas yang terbentuk. Tetapi itu sangat berbeda setelah memasuki tahun 2010, persentase perkembangan mencapai antara 13%  sampai 22% setiap tahunnya mulai dari tahun 2010-2014.

Persentase Perkembangan Komunitas

Tahun 2014 merupakan tahun di mana perkembangan komunitas sangat besar. Ada 37 komunitas yang berdiri pada tahun itu yang dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu 11 komunitas filantropi (sosial) dan 26 berbasis hobi. Salah satu faktor pendukung yang mempengaruhi berkembang pesatnya komunitas di tahun 2014 karena akses informasi yang mudah dengan bantuan media sosial. Hal ini dipertegas oleh Appi Patongai, dia menyatakan bahwa media sosial sangat membantu pada tahap perintisan, rekrutmen,  volunteer, donasi dan sosialisasi kegiatan komunitas ini.

Ini masih sebatas hipotesis saya, bahwa ada kaitan antara perkembangan komunitas yang massif setelah berbagai macam-macam media sosial masuk ke Indonesia khususnya di kota Makassar. Pada April 2010, menurut The New York Times, negara yang memiliki pengguna Facebook terbanyak adalah Amerika Serikat, Britania Raya dan Indonesia. Indonesia telah menjadi negara dengan jumlah pengguna Facebook terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat dengan 24 juta pengguna atau 10% dari total penduduk Indonesia Pada awal 2010.

Sementara itu, data yang dirilis situs A World of Tweets Dot Com sejak November 2010 – Januari 2012 menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga terbanyak di dunia dalam menulis tweet (kicauan), yakni sebesar 11,39%. Peringkat pertama diduduki Amerika Serikat dengan jumlah tweet sebanyak 27%, dan peringkat kedua dipegang Brazil dengan tweet sebesar 24 %.

Beberapa informasi di atas bisa saja memperkuat dan bisa pula menggugurkan hipotesis tersebut tentang kaitan perkembangan komunitas dengan penggunaan media sosial sebagai media pendukung komunitas-komunitas yang ada di Indonesia khususnya di Makassar.  Tetapi terlepas dari itu semua, melalui tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa kota Makassar memiliki kekuatan yang sangat besar untuk berubah lebih baik lagi, mengembalikan kejayaannya sebagai daerah yang masyhur dengan potensi manusia, alam dan budayanya (kota dunia). Civil society yang berjumlah 152  tersebut merupakan modal besar untuk mencapai hal itu. Tinggal bagaimana memanfaatkan modal ini, Apakah untuk kepentingan individu, komunitas atau untuk masyarakat.

Sumber:

Data Pesta Komunitas 2015

Data dari A World of Tweets Dot Com tersebut diperoleh berdasarkan rekaman total jumlah tweet seluruh dunia sejak November 2010 – Januari 2012.

http://log.viva.co.id/news/read/324024-data-dan-fakta-pengguna-twitter-di-indonesia

(Noam Cohen (April 24, 2012). “The Breakfast Meeting: Grilling for James Murdoch, and Facebook Tops 900 Million Users”New York Times)

Iklan

4 thoughts on “Pemuda, Komunitas & Media Sosial

  1. nunuasrul berkata:

    Wuihhhh..
    penjabaran datanya keren bingits om !
    Saya baru nyadar tentang perkembangan komunitas lewat tulisan ini..
    keren !

    Err.. sy penasaran kalau om feri nulis fiksi.. haha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s