(Jangan) Pertahankan Uang Panaik


Pedal gas mobil kutekan lebih dalam, suara angin seakan ingin memecah kaca mobil yang sengaja tak kurapatkan. Demi menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara kandung, mobil melaju di atas kecepatan wajar, untungnya aku berkendara sendiri. Jarak rumahku ke rumahnya lumayan jauh sekitar 65 km, biasanya ditempuh dengan waktu 90 menit. Tapi hari itu hanya kutempuh dalam 45 menit, mungkin karena tidak sabar ingin melihatnya duduk di pelaminan dengan wanita pilihannya.

Janur kuning diterpa angin seakan menyambut para undangan dengan riang. Lamming yang mengilau dengan dasar kain kuning keemasan mengisi setiap sudut-sudut lorong tenda. Haru muncul ketika melihat mereka duduk di atas pelaminan dan didampingi orang tua di samping kanan dan kiri. Sempat terlintas, “Tuhan, kapan aku berada pada posisi seperti dia?”. Lamming adalah hiasan pada pesta pernikahan khas Bugis-Makassar.

Kulalui deretan keluarganya dengan jabatan tangan, badan ini belum sempat kuhadapkan ke depannya tangan merangkul-memeluk dan tiba-tiba sebuah kalimat terdengar, “Kapan ki kita kali?” tanyanya dengan nada sedikit menyindir.

“Doakan secepatnya kali, kumpul-kumpul dulu uang panaik hahaha…” tawa pun pecah di riuh pesta tersebut.

Kali merupakan panggilan akrab dalam pertemanan yang sudah dianggap seperti saudara kandung. Dalam bahasa Bugis-Makassar kali berasal dari kata Cikali yang berarti sepupu satu kali.

***

Uang panaik, sebuah frasa yang tidak asing untuk masyarakat Bugis-Makassar. Frasa yang sangat identik dan cukup menakutkan bagi beberapa orang dalam pernikahan Bugis-Makassar. Bagi umat muslim lebih mengenal mahar, untuk masyarakat Bugis-Makassar disebut sompa atau sunrang sebagai syarat pernikahan. Tetapi dalam adat Bugis-Makassar selain mahar dikenal pula uang panaik (Makassar) atau dui’ menre’ (Bugis).

Sompa atau sunrang  berbeda dengan uang panaik atau dui’ menre’. Sompa atau sunrang adalah sebuah syarat sahnya pernikahan menurut syariat islam berupa pemberian uang atau harta dari pihak pria kepada pihak wanita. Sedangkan uang panaik atau dui’ menre’ adalah ‘uang antaran’ dari pihak pria kepada pihak wanita yang diperuntukkan untuk membiayai prosesi pernikahan.

Selain mahar, uang panaik wajib adanya dalam adat pernikahan Bugis-Makassar. Yang saya pahami, adanya uang panaik dalam adat pernikahan merupakan sebuah metode mempertahankan adat-istiadat sebuah kebudayaan. Selain itu ada semangat besar di dalamnya seperti metode untuk memelihara semangat kolektif kekeluargaan.

Pernah aku mendapati bagaimana uang panaik ini menggerakkan seluruh elemen dalam keluarga besar. Bulan Januari 2010 ditetapkan sebagai waktu untuk melaksanakan pesta pernikahan kakak yang tertua dan kedua (nikah kembar). Kakak yang pertama lah yang menjadi fokus keluarga karena dia seorang pria, otomatis membutuhkan uang panaik. Untungnya kakak yang kedua seorang wanita, jadi dia yang diberikan uang panaik.

Suatu malam, keluarga besar dari Ibu dan Bapak berkumpul di rumah untuk membahas persiapan untuk pernikahan mereka. Pembahasan diawali dengan uang panaik, singkat cerita uang panaik ini merupakan salah satu pemicu semangat kolektif dalam keluarga. Mahar dan uang panaik ditanggung sepenuhnya oleh keluargaku sebagai tanggung jawab orang tua walaupun ada keluarga yang menawarkan untuk membantu, sedangkan keperluan pernikahan yang lain secara kolektif dan sukarela ditanggung oleh saudara-saudara Ibu dan Bapak.

Selain semangat kolektif kekeluargaan yang terdapat dalam uang panaik, terdapat pula sebuah penghargaan yang tinggi bagi seorang wanita dalam masyarakat Bugis-Makassar, mungkin juga di beberapa daerah lain di Nusantara. Uang panaik ini merupakan salah satu bukti kesungguhan bagi pria Bugis-Makassar untuk mempersunting wanita pujaannya.

“Kusanggupi kali biar berapa napatok Mamanya Ani.” Seperti yang dikatakan oleh seorang teman yang telah melamar sebanyak dua kali tetapi tetap ditolak oleh keluarga wanita. Biasanya keluarga wanita yang mematok uang panaik yang tinggi pertanda sebuah penolakan dalam sebuah lamaran.

Selanjutnya yang kupahami adalah uang panaik menjadi salah satu landasan yang kuat untuk menghindari perceraian di kemudian hari, karena pernikahan yang telah berlangsung bukan hanya milik kedua mempelai tetapi milik dua keluarga besar. Ini merupakan sebuah siri untuk dua keluarga besar. Baik dan buruknya rumah tangga mereka akan selalu membawa nama keluarga besar di dalamnya.

Tetapi uang panaik ini menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat. Sehingga muncul stigma baru ‘semakin tinggi kelas sosialnya maka tinggi pula uang panaiknya’. Hal ini tidak bisa dipandang hanya menggunakan kacamata kuda. Rendah dan tingginya uang panaik tidak bisa kita ratakan dalam masyarakat, kembali lagi kepada kesanggupan dan kesepakatan keluarga. Jika keluarga pria menyanggupi ratusan juta sampai milyaran itu tidak menjadi soal. Seperti contoh tempo hari yang terjadi di Bulukumba, uang panaik mencapai 505 juta.

“Bukan keluarganya Idhar yang minta segitu kak, malah sebenarnya dia tidak mau sampai banyak begitu.” tegas Ikkye saat menceritakan hal tersebut yang ramai diberitakan media.

“Jadi keluarga laki-laki yang tawarkan, begitu?” tanyaku.

“Mungkin karena itu laki-laki rekan pengusahanya pacenya Idhar. Jadi begitumi kak.” Hati-hati Ikkye coba menjawab. Ikkye adalah sahabat yang cukup dekat dengan Idhar.

Konteks hari ini memang sangat berpengaruh dalam bergesernya nilai adat istiadat (budaya) dalam sebuah tatanan masyarakat. Seperti itu juga uang panaik, adanya pergeseran nilai di dalamnya karena kapital efek. Untuk beberapa orang, uang panaik tidak dipandang lagi sebagai sebuah adat bernilai luhur tetapi dipandang dengan kacamata materialis.

Iklan

4 thoughts on “(Jangan) Pertahankan Uang Panaik

  1. Rahmah Chemist berkata:

    Uang Panaik ku bisa ditaklukkan juga sama suamiku dulu
    Dikasih nilai sekian, ditawar dengan angka sekian
    Jadi juga… dan termasuk nekat yang terkabul, hahaha…

    Uang Panaik sekarang jadi bahan kebimbangan Mamaku yang sudah janda karena masih ada satu adek perempuan (bungsu) dan satu adek laki-laki (anak ketiga). Satu mau dibawakan uang panaik, satu mau kasih orang uang panaik… ckckckc

    Suka

  2. mzuh berkata:

    “Uang Panaik” menjadi momok yang sedikit menggetarkan tekad bulat seorang pria untuk meminang wanitanya.
    Bayangkan saja klo bilang “Dek, mau mka datang melamar, berapa kira-kira panaikta?” kemudian Si Wanita menjawab “150 Juta kak”…
    dehh….langsung putus semangat !!!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s