Pajappa: Ramma dalam Bahaya


Jappa’ko nakko meloko

missengngi ise’na Linoe sibawa alemu

Pajappa, sebuah kosa kata dalam bahasa Bugis-Makassar dari kata dasar jappa yang berkelas kata kerja bermakna ‘jalan’, apabila ditambahkan awalan “pa” maka berubah kelas kata menjadi kata benda (pelaku atau subjek). Jadi pajappa dapat diartikan pejalan atau orang yang suka jalan-jalan.

Pajappa adalah sebuah komunitas yang berbasis hobi jalan-jalan, hampir kegiatannya di laksanakan di akhir pekan. Setahu saya, komunitas ini tidak hanya sekedar jalan-jalan, tetapi juga mengisi ruang sosial-edukasi seperti kegiatan Edu-Camp. Kegiatan ini berisi tentang materi pengenalan dasar di alam bebas kepada peserta yang tergabung dalam kegiatan ini.

Selain itu, ada juga kegiatan Kemah Bakti. Kemah Bakti lah yang menjadi pertemuan pertama saya dengan komunitas ini. Kemah Bakti menjadi salah satu rangkaian acara setahun kelahiran Pajappa yang berlangsung pada 16-17 Mei 2105 berlokasi di Desa Timpuseng Kec. Camba, Kab. Maros. Dalam kegiatan sosial-edukasi ini ada 10 komunitas dan gerakan yang bergabung termasuk gerakan yang saya wakili.

1431949621378

Kemah Bakti Pajappa (Sinergi 10 Komunitas dan Gerakan)

***

“Jam berapaki ke KEPO Om?” Tanya saya via chat ke salah satu Presidium Pajappa.

“Adama dari tadi om.” Jawab Om Na’, begitulah beliau disapa.

“Ok… meluncur ke sana.” Saya akhiri percakapan di ruang chat dengan kalimat ini.

Kedai Pojok Adhyaksa yang akrab kami sebut KEPO menjadi meeting point untuk kegiatan Camping Semalam bersama teman-teman Pajappa di akhir pekan ketiga bulan November 2015. Awalnya lokasi Camping Semalam di Air Terjun Lembanna, tetapi sesuai kesepakatan peserta kopdar di Zubis maka lokasi dipindahkan ke Lembah Ramma.

Waktu menunjukkan pukul 22.00 WITA, doa pun dipanjatkan sebelum kami (peserta) berangkat. Suara mesin motor pun berderu menandakan awal perjalanan kami menuju Malino, kami berjumlah 14 orang dengan berkendara delapan motor. Sekitar dua jam lama perjalanan, kami sudah tiba di Hutan Pinus, Malino. Kami istirahat sejenak di sana untuk makan dan ngopi. Ternyata bukan hanya kami saja yang akan ke Lembah Ramma, juga ada sebuah komunitas yang akan menuju destinasi alam tersebut.

Lembah Ramma yang terletak di bawah kaki Gunung Bawakaraeng, merupakan sebuah destinasi yang memang seksi bagi para penggiat alam bebas. Tempat ini menawarkan kesejukan udara dan panorama alam yang sangat mempersona. Dari keseksian dan pesonanya itu tak banyak pula pengunjungnya yang nakal, merusak kemolekan dan kecantikannya. Sampah sisa makanan olahan maupun kemasan menghiasi beberapa titik camp di lembah tersebut, pencemaran sumber air, penempatan titik perapian yang kurang tepat, dll. Ini menjadi permasalahan yang sangat klasik untuk tempat-tempat wisata khususnya masalah sampah.

Pukul 03.00 dini hari, Lembanna menyapa dengan udara dinginnya. Motor kami parkir dengan rapi di depan rumah masyarakat. Lembanna merupakan lokasi awal di mana para pendaki atau penggiat alam bebas memulai perjalanan dengan berjalan kaki menuju Lembah Ramma dan Gunung Bawakaraeng. Om Na’ menyampaikan kembali beberapa hal penting sebelum perjalanan dimulai, dari posisi Leader, Sweeper, dan Runner dan beberapa arahan singkat kepada peserta. Setelah itu, doa pun kami panjatkan sebelum memulai langkah kaki yang dipimpin oleh Kak Rara sebagai Trip Manager.

Head Lamp satu persatu menerangi rute yang kami jalani, playlist Bollywood pun mulai bersenandung sepanjang perjalanan. Memang saya sengaja mengatur lagu-lagu tersebut untuk menemani perjalanan yang hening, gelap, udara dingin dan juga menjadi bahan candaan kami selama perjalanan.

“Andai ada pengelolahnya ini tempat terus ada beberapa titik untuk membuang sampah, dari Lembanna sampai di Ramma.” Tiba-tiba Om Enal mengeluarkan kalimat ini di tengah seriusnya langkah kami.

Iye… Om dih, pasti tidak banyak sampah.” Dengan nada suara yang berat saya menjawab pertanyaan beliau.

“Kalau ada beberapa titik tempat buang sampah, kan nda susahmi juga membersihkan pengelolahnya, tinggal ke titik-titik itu untuk diambil.” Lanjut beliau dengan nada serius. Om Enal adalah salah satu tokoh yang dituakan dalam Pajappa dan juga seorang fasilitator desa di sebuah lembaga sosial.

Yang diutarakan oleh Om Enal mungkin saja menjadi kegelisahan dan sebuah pemikiran yang sederhana untuk tempat-tempat yang bisa dikategorikan tempat wisata. Dan ini terjadi di beberapa tempat wisata di Sulawesi-Selatan maupun Indonesia seperti penanganan sampah, etika pengunjung, konflik antara pemerintah atau swasta dengan masyarakat sekitar.

Empat jam lamanya kami pun sampai di Tallung setelah menyusuri hutan pinus, hutan lumut dan melintasi empat aliran sungai. Dan selama empat tahun, mata ini akhirnya bisa melihat kembali Lembah Ramma. Seingat saya, tahun 2011 merupakan perjumpaan terakhir dengan tempat ini. Perasaan ini bersyukur karena masih bisa kembali ke sini. Tallung adalah sebuah bukit yang di ujung utaranya berbentuk tanjung, di tempat ini kita dapat melihat puncak Gunung Bawakaraeng dan memandang keseluruhan Lembah Ramma.

Sambil merehatkan tubuh, mata ini coba memperhatikan detail beberapa lokasi. Ada yang berbeda dari kunjungan empat tahun yang lalu. Ternyata beberapa bulan yang lalu telah terjadi kebakaran di sekitar Gunung Bawakaraeng dan Lompo Battang. Walaupun dampak yang ditimbulkan tidak sampai ke pemukiman padat penduduk seperti di Sumatera dan Kalimantan, tetapi memberikan dampak pada vegetasi yang berada di sekitar lokasi tersebut, lereng yang dulunya hijau dengan pepohonan, sekarang seperti lereng-lereng gunung berapi yang gelap dan gersang.

IMG_4112

Suasana di Tallung sebelum matahari terbit

“Selalu ada kedamaian di dalam hati ketika merasakan sejuknya udara dan belaian kabut waktu itu. Tapi di luar dugaan ketika masuk ke pos lima menuju Bawakareng, yang saya temukan hanya pepohonan yang kalah dengan panasnya api, dan puncaknya hatiku terasa sangat sakit dan tak sadar mataku basah sambil takbir sekeras mungkin.” Kak Arfan menceritakan dengan nada sendu dan perlahan matahari pun terbit di balik Gunung Bawakaraeng. Kesedihan Kak Arfan sangat beralasan karena beliau merupakan salah satu pendaki yang memiliki jam terbang tinggi dan selalu mencoba mengharmoniskan diri dengan alam bukan menyakiti alam.

IMG_4135

Sisa Kebakaran Di Punggung Bukit

Trip yang dilaksanakan oleh teman-teman Pajappa menjadi sebuah pengobat rindu selama empat tahun tak mengunjungi Lembah Ramma. Memetik pelajaran dari teman-teman yang ikut dalam perjalanan ini, bagaimana mereka sangat menikmati, menghormati, dan menjaga apa yang telah diberikan (alam) oleh Tuhan kepada kita. Bahasa kerennya, bagaiman menginternalisasi (menenamkan nilai ke diri sendiri) dulu sebelum mengeksternalisasi (menyampaikan) kepada orang lain.

Terkhusus pula untuk teman-teman yang mengunjungi tempat-tempat wisata, agar selalu menjaga keharmonisan pengunjung dengan warga setempat dan alamnya. Selain itu, dari fakta selama perjalanan harusnya menjadi sebuah sinyal bahaya untuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang bergiat pada segmen lingkungan-hidup, Jika tangan-tangan mereka tidak kunjung datang dalam permasalahan ini, maka tempat-tempat semacam ini tinggal menghitung waktu datangnya permasalahan-permasalahan yang lebih besar dan untuk anak-cucu kita hanya dapat mendengar dogengnya dan gambar-gambar ketika masih seksi.

Terima Kasih teman-teman yang ngetrip bareng dalam Camping Semalam Pajappa; Kak Rara, Kak Ewi, Kak Arfan, Om Enal, Om Na’, Om Appi, Om Jack, Andri, Neru, Oca, Farid, Ical, Rasyid dan seluruh teman-teman Pajappa. Karena hidup itu butuh hiburan dan liburan, ayo jappa-jappa biar bisa tahu, hidup itu harus disyukuri dalam setiap setiap langkah dan tarikan nafas kita. Long Life Pajappa!

Iklan

2 thoughts on “Pajappa: Ramma dalam Bahaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s