Makassar: Kota Berpestanya Komunitas


Aroma asin daerah pesisir dan suhu yang lembab menyambut kunjungan saya di sebuah pesta yang di dalamnya terdapat ragam komunitas. Anjungan Pantai Losari, sebuah Land Mark Kota Makassar menjadi loka pesta ini dan diberi nama Pesta Komunitas Makassar yang berlangsung 21-22 Mei 2016. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika memasuki pintu gerbang pesta tersebut yaitu etnik,  Itu karena pintu gerbang yang terbuat dari anyaman rumbia persis seperti atap bangunan rumah masyarakat di pedesaan, tetapi ada yang aneh dari pintu gerbangnya, jika dilihat sepintas pintu gerbang itu hanya seperti atap tak ada tiang yang menopangnya, jadinya terlihat seperti bangunan rumah yang rubuh diakibatkan gempa yang menyisahkan hanya atap saja.

Setelah melewati pintu gerbang tadi, di sisi kanan-kiri pengunjung akan disuguhkan banjaran tenda komunitas yang memamerkan dokumentasi kegiatan mereka dan ada juga terdapat stan pendukung acara ini. Informasi dari panitia pelaksana Pesta Komunitas Makassar (PKM) tahun 2016 melalui akun media sosialnya menyebutkan ada 240 Komunitas yang memeriahkan kegiatan ini. Jika dilihat dari kuantitas, komunitas yang bergabung di tahun 2015 yaitu 152 komunitas, maka dapat di dipastikan peningkatannya hampir dua kali lipat, dan selalu mengalami peningkatan dimulai pada tahun pertama (2014) pelaksanaan kegiatan ini yang hanya berjumlah 75 komunitas.

Pesta Komunitas Makassar memasuki tahun ketiganya. Dan ini kali kedua saya menghadiri kegiatan ini, sebelumnya di tahun 2015 mengusung tema “Sinergi, Harmoni, Aksi!”, di tahun 2016 PKM memberikan tema yang baru “Kreativitas tanpa Batas.” Setiap tema yang diusung pasti memiliki tujuan tersendiri, seperti pada tahun pertamanya yang mengusung tema “Berkumpul, Berbagi, Bersama” telah mencapai tujuan awalnya, seperti perbincangan saya bersama salah satu inisiator Pesta Komunitas Makassar di sebuah stan kuliner pada malam pertama pelaksanaan PKM 2016.

“Tahun pertamanya PKM sudah didapatmi tujuannya, memperkenalkan komunitas yang satu dengan lainnya dan juga kepada Masyarakat Makassar, dan 2015 walaupun hanya ada satu program kolaborasi tapi minimal adami yang terlihat sinergi dan kolaborasi komunitas dalam satu aksi yang nyata.” Jelas Kak Anchu ketika kami menikmati kopi di riuh pesta malam itu.

***

Ada sisi yang lain yang mungkin tak pernah kita sadari bahwa Makassar memiliki kaum muda yang memiliki semangat berkomunitas yang tinggi, indikator sederhana yang dapat kita lihat yaitu meningkatnya jumlah komunitas yang bergabung pada PKM setiap tahunnya. Sekarang, Makassar memiliki 240 komunitas yang mengambil segmennya masing-masing, ada yang mengambil peran di bidang pendidikan, sosial, budaya, literasi, hobi, dan juga petualangan. Yang menjadi catatan penting bahwa Komunitas-komunitas ini bukan hanya sekadar berpesta seperti makna ‘pesta’ lazimnya tetapi lebih kepada silaturahmi komunitas dengan berbagi informasi tentang komunitas masing-masing dan memperkenalkan program yang mereka akan dan telah lakukan selama berkomunitas.

Yang saya pahami bahwa komunitas-komunitas ini merupakan sebuah kekuatan besar dari civil society bagi Makassar yang seharusnya pemerintah peka melihat trend berkomunitas ini, minimal memberikan ruang kepada komunitas-komunitas ruang diskusi tentang program-program yang dapat bersinergi dengan pihak Pemerintah Kota. Mengapa saya mengatakan seperti itu, karena komunitas dengan segmennya masing-masing secara langsung memberikan kontribusi yang nyata dan sangat besar bagi perkembangan Kota Makassar. Ruang-ruang kosong yang jarang disentuh oleh birokrasi memungkinkan komunitas untuk mengambil peran dengan program yang mungkin saja lebih inovatif dan lebih efektif. Contoh sederhana yang dapat kita lihat, komunitas yang bergerak pada segmen pendidikan memberikan kontribusi yang nyata bagi anak-anak jalanan, masyarakat pesisir di Makassar untuk meningkatkan derajat hidup mereka melalui pendidikan alternatif yang seharusnya dikerjakan oleh Dinas Sosial bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota. Komunitas yang bergerak khusus literasi menyediakan Rumah Baca untuk masyarakat secara gratis yang sekiranya menjadi program Pendidikan Luar Sekolah dan Kepustakaan. Selain itu ada juga komunitas yang bergerak pada segmen budaya, melalui diskusi dan pagelaran budaya, mereka secara massif memperkenalkan budaya yang mulai samar diketahui masyarakat dalam maupun luar Makassar. Langkah-langkah kecil yang telah dilakukan oleh mereka mungkin tidak pernah kita sadari bahwa memberikan efek yang sangat besar (kontribusi) untuk Kota Makassar atau mungkin kita yang sekadar melihat bagian atas saja tapi tidak jauh melihat ke bawah layaknya fenomena gunung es.

Pribadi, saya memiliki gambaran, setelah 3 tahun PKM, ada sebuah langkah yang dapat menyatukan bukan hanya antar komunitas tetapi keseluruhan komunitas -sebagai salah satu unsur civil society- dengan pihak Pemerintah untuk bersama-sama mendiskusikan dan mencari pemecahan masalah sosial di Makassar yang memberikan efek timbal-balik yang baik untuk masyarakat, pemerintah, dan juga para pegiat komunitas.

Dan penghormatan yang sebesar-besarnya harus saya berikan kepada inisiator dan seluruh komponen yang terlibat dari tahun pertama sampai pada tahun ketiga Pesta Komunitas Makassar. Bukan pekerjaan mudah untuk merangkul ego dan ambisi yang berbeda dalam satu ruang yang sama.

*Tulisan ini diikutkan pada lomba yang diadakan oleh komunitasmakassar.org

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s