Sarjana Nuklir di Tanamera


Artis Latte Art Tanamera itu bernama Viki Rahardja. Seorang pria yang saya jumpai ketika bertemu dengan sahabat di salah satu Coffee Shop di daerah Thamrin, salah satu kawasan yang padat di Jakarta Pusat. Pertemuan dengan Viki, sapaan pria itu, tidak terencana sama sekali. Awalnya saya hanya sekadar ingin menikmati kopi bersama sahabat di salah satu coffee shop di daerah Danau Sunter tetapi lokasi pertemuan berubah karena pertimbangan jarak yang cukup jauh ke lokasi itu. Maka kami putuskan untuk ngopi di Tanamera, salah satu coffee shop yang cukup populer lah di Jakarta.

***

Bermodalkan salah satu aplikasi untuk navigasi kutapaki setapak dari Mall Thamrin untuk mencari lokasi Tanamera. Tidak terlalu lama untuk menemukan coffee shop ini, waktu tempuhnya hanya sekitar tujuh menit dari Mall Thamrin. Sebuah bangunan ruko yang didominasi warna hitam dan di tengah bangunan tersebut bertulisankan ‘Tanamera Coffee Indonesia’ dengan warna merah menyala. Di pelatarannya terususun beberapa meja dan bangku yang terbuat dari kayu, beberapa terisi pengunjung dan ada beberapa juga yang masih kosong.

Kuletakkan carrier di dekat salah satu meja yang kosong yang berada di sudut kanan dekat pintu masuk, tas yang menemani beberapa hari ini berkeliling dari Bogor ke Jakarta. Handphone kutarik keluar dari saku dan berkabar kepada sahabat bahwa saya sudah sampai di Tanamera. Saya putuskan untuk memesan lebih awal sambil menunggu sahabat tadi. Di meja bar, mata ini memperhatikan deretan bungkusan kopi berlabel dengan nama dan asal daerah yang berbeda-beda, dari Sumatera sampai Papua. Perhatian saya tertuju pada Kopi Bali Kintamani. Saya jatuhkan pilihan pada kopi itu untuk dinikmati dengan proses manual brew V60.

eatandtreats9

Sumber gambar: Tanameracoffee.com

Tak lama setelah kopi pesanan saya disajikan, sahabat yang yang saya tunggu akhirnya datang juga. Namanya Rama, pria berambut gondrong ini berprofesi sebagai barista di salah satu kedai kopi di Makassar. Di Jakarta, dia ditugaskan beberapa pekan untuk berbagi pengetahuan dengan barista di kedai kopi di daerah Danau Sunter. Malam itu, Rama datang bersama seorang perempuan yang tidak sempat saya tanyakan namanya. Perempuan itu ternyata berasal dari Makassar juga tetapi sudah lama mendiami Kota Jakarta.

***

Coffee Shop ini seperti stasiun kereta saja, hampir tak ada jeda pintu masuk terbuka dan tertutup karena pengunjung yang datang dan pergi. Seakan tempat ini memiliki kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung.

“Bedaki toh konsumen di Makassar dengan di sini.” Rama menyela.

“Beda kenapa Om?” Tanyaku bingung dengan pernyataan Rama.

“Kalau di Makassar konsumennya jadikan Coffee Shop sebagai tempat nongkrong, tapi kalau di sini konsumen yang datang memang sekedar nikmati kopi atau ketemu rekan kerja setelah itu pulang, tidak nongkrong sampai berjam-jam.” Jelas Rama yang sepertinya lebih tahu perilaku konsumen Coffee Shop.

Di tengah perbincangan saya bersama Rama, seorang pria dengan model rambut Undercut tertata rapi yang badannya masih terpasang apron (celemek khas barista) berwarna cokelat menuju ke arah meja kami, lalu menyapa akrab.

 “Sudah lama Bro?” Pria itu membuka percakapan dengan pertanyaan.

“Baru aja, sekitar setengah jam lah.” Jawab Rama sambil bersalaman.

Screen-Shot-2016-03-29-at-4.36.54-PM1

Sumber gambar: Tanameracoffee.com

Rama pun memperkenalkan saya dengan pria itu. Pemilik nama lengkap Viki Rahardja yang akrab disapa Viki adalah trainer dan barista senior di Tanahmera. Pria asal Serpong ini merupakan alumni Teknik Nuklir di salah satu perguruan tinggi ternama di Jogja. Di kota inilah awal perjalanannya menuju barista terkenal di Ibu Kota. Ketika masih berstatus mahasiswa, Viki sering membuat Latte Art lalu diposting di instagram dan twitter. Perantara media sosial twitter lah, dia dilirik oleh Doddy Samsura (Juara Indonesia Barista Championship 2013), karena menjuarai salah satu kompetisi Latte Art yang berskala Nasional. Lalu dia diajak untuk bergabung di Barista Istimewa Jogja.

Setelah menyandang gelar Sarjana Teknik Nuklir di tahun 2013, Viki sempat bekerja di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Yogyakarta sebagai Petugas Perlindungan Anti Radiasi, di mana Ayahnya bekerja. Dia pun sempat mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak tiga kali tapi tidak pernah berhasil.

Gua tiga kali tes jadi PNS gak pernah lulus. Tes akademik dan psikotes lulus, tapi wawancara gak lulus, sepupu gua daftar sekali langsung lulus dia… fu*k.” Ujar pria modis ini ketika menceritakan pengalamannya untuk menjadi Abdi Negera. 

Tetapi keahliannya dalam meracik kopi mengobati kekesalannya mendaftar PNS. Di tahun yang sama, Viki diajak bergabung sebagai barista Tanamera, salah satu Coffee Shop terkenal di Jakarta. Di tempat inilah dia mulai melatih dan mengembangkan keahliannya meracik kopi. Latte Art adalah pilihan yang ingin dia fokusi, hasil belajarnya pun terlihat setelah beberapa lama menjadi peracik kopi di Tanamera. Beberapa kompetisi Latte Art Nasional berhasil dia juarai, dan beberapa kompetisi Internasional diikutinya seperti Food Hotel Asia 2014 di Singapura, Coffee Fest World Championship pada April 2015 di Jepang, Viki menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia, dan baru-baru ini Latte Art Competition di Zagreb, Kroasia. Menurut Viki, juara itu hanya bonus lah yang terpenting adalah pengalaman dan pengembangan kemampuan.

Latte-Art-Basic-1

Sumber gambar: Tanameracoffee.com

***

Saya sempat menanyakan kenapa dia bisa jadi barista padahal latar belakang pendidikannya tidak ada sama sekali kaitannya dengan dunia kopi. Walaupun saya mengenal beberapa barista yang hampir mirip dengan Viki, tidak linear dengan profesinya sekarang, kebanyakan beralasan karena passion mereka di situ.Tetapi alasan Viki sangat berbeda, dia menjelaskan alasannya karena sebuah tanyang dalam film yang ditontonnya berjudul Rosetta. Film ini bercerita tentang seorang pria kaya raya yang terobsesi menjadi pahlawan, dan ada seorang pria lagi sebagai pembantunya berperawakan Asia yang tiap paginya menyajikan sang majikan coffee latte bergambar rosetta dengan mesin kopi yang super canggih.

“Waktu gua liat scene itu, gua bilang keren banget kalau bisa buat seperti itu. Dari situ deh gua latihan buatnya, liat-liat tutorialnya di youtube.” Jelas Viki dengan raut muka yang girang.Ternyata bukan hanya alasan karena passion saja, karena kagum dan ingin keren pun bisa menjadi motivasi tersendiri seseorang bisa jadi barista. Di akhir percakapan kami malam itu, Viki sempat menyampaikan bahwa hal yang terpenting harus dimiliki barista adalah attitude kepada konsumen ataupun sesama barista, selalu ingin belajar/latihan, dan mempertanggung jawabkan kemampuan yang mereka miliki  dengan berbagi pengetahuan dan pengalamannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s