Child Labour; The Dark Side of Chocolate


“Anak-anak adalah sumber daya yang paling berharga di Dunia dan harapan terbaik untuk masa depan.”_John Fitzgerald Kennedy

“Mama… saya mau seperti cokelat kalau dilihat orang.” Kalimat manja keluar dari mulut seorang anak kecil dengan senyum lebar kepada Ibunya.

“Mengapa Ade mau seperti cokelat?” Tanya Ibunya.

“Karena cokelat itu manis, Ade mau kalau dilihat orang-orang, Ade kelihatan manis.” Jawab anak kecil itu dengan wajah polos.

Penggalan percakapan di atas sempat saya dengarkan ketika menikmati pisang peppe di kawasan kuliner kota Makassar. Kebetulan anak kecil dan Ibunya itu duduk di sebelah meja saya yang juga menikmati kuliner khas Makassar itu. Mendengarkan percakapan tersebut, tiba-tiba ingatan membawa saya pada sebuah film dokumenter yang berkisah tentang cokelat dan anak kecil.

Film dokumenter tersebut berjudul The Dark Side of Chocolate. Sebuah film dokumenter yang dirilis pada 16 Maret 2010 menggambarkan bagaimana cokelat yang begitu sangat manis di lidah saat kita nikmati dengan label perusahaan terkenal, ternyata di dalamnya terkubur tumpukan cerita pahit anak-anak di Afrika. Film yang berdurasi 61 menit ini disutradarai langsung oleh Miki Mistrati seorang jurnalis kewarganegaraan Denmark, menampilkan sebuah investigasi tentang perdagangan dan perbudakan anak di bawah umur untuk dijadikan pekerja perkebunan kakao yang berlokasi di Pantai Gading dan Ghana.

Adegan yang menandai mulainya investigasi Mistrati berlokasi di Jerman tepatnya Koelnmesse, saat dia mengunjungi beberapa stan perusahaan cokelat terkenal. Dia pun sempat berbincang dengan beberapa direktur pemasarannya tentang lokasi perkebunan yang menjadi bahan baku produk cokelat mereka. Direktur Pemasaran Fridiel, Stella Bernrain, Guylian Belgian Chocolate, dan Barry Callebaut memberikan jawaban bahwa asal bahan baku untuk produk cokelat mereka dari Afrika (Pantai Gading dan Ghana).

Tapi saat Mistrati menanyakan “Apakah mereka mengetahui adanya praktik perdagangan dan perbudakan anak di perkebunan kakao di Afrika?”. Mieke Callebaur selaku Direktur Pemasaran Guylian Belgian Chocolate menegaskan bahwa mereka yakin tidak ada praktik seperti itu di Afrika, karena mereka (baca: Chocolate Manufactures Association) telah menanda tangani Harkin-Engel Protocol yang berisi 6 butir kesepakatan yang bertujuan untuk mengakhiri praktik penjualan dan perbudakan anak dalam produksi kakao.

Selanjutnya Mistrati terbang ke Afrika (Pantai Gading dan Ghana) untuk membuktikan apakah Harkin-Engel Protocol memang terlaksana atau hanya protokol belaka. Ternyata di sana dia menemukan fakta begitu banyak anak-anak di usia 10-15 tahun yang menjadi pekerja di perkebunan kakao. Fakta ini terekam jelas pada kamera tersembunyi di baju Mistrati, ada anak kecil yang menarik karung yang besarnya tiga kali lipat dari badan bocah itu.

Selain itu, ada tiga anak yang sempat ia wawancarai langsung. Mariam, Yaya Konate, dan Zanga Traore merupakan korban trafickking yang dijadikan pekerja perkebunan kakao di Pantai Gading dan Ghana. Alasan kondisi ekonomi keluarga yang memaksa mereka untuk bekerja di perkebunan kakao walaupun hanya diupah sedikit dan bahkan tak diupah seperti pemaparan narator dalam film ini.

Hasil temuan Mistrati di lapangan mengharuskan dia untuk mengkonfirmasi kepada perusahaan yang mengelolah perkebunan tersebut. Dan penanggung jawab perusahaan pun membatah temuan itu, begitu juga dengan pihak pemerintah. Perjuangan Mistrati tidak berhenti di situ saja, dia mengirim undangan untuk memperlihatkan dokumentasi temuannya kepada Nestle, Mars Incorporated, Kraft, ADM, Barry Callebaut dan perusahaan-perusahaan yang bergabung dalam Chocolate Manufactures Association tetapi ditolak.

Di akhir film ini menggambarkan upaya terakhir dari Mistrati untuk membuka mata dunia dan melihat praktik-praktik terlarang yang terjadi di Afrika. Upaya terakhir ini sebagai tanggapan akan penolakan undangan yang dia kirim sebelumnya. Mistrati menyiapkan layar besar di samping kantor pusat Nestle di Swiss, posisi layar sangat ideal di mana karyawan yang baru datang untuk bekerja dapat melihat secara jelas video anak-anak yang bekerja di industri kakao.

***

Menyaksikan The Dark Side of Chocolate, membuat rasa ingin tahu memuncah. Hal yang pertama saya lakukan adalah mencari informasi tentang dunia kakao. Dengan kata kunci pencarian “Negara penghasil kakao terbesar di dunia” muncullah deretan berita dan artikel yang berkaitan keyword itu. Pantai Gading dan Ghana merupakan Negara penghasil kakao yang menduduki posisi pertama dan kedua sesuai dengan data CorpWacth. Dan di urutan ketiga membuat saya terkejut, ternyata Indonesia berada di urutan tersebut. Memang selama ini saya tidak terlalu tertarik dan minim pengetahuan dengan perkebunan kakao, ketertarikan lebih kepada perkebunan kopi karena aktivitas pendampingan petani kopi yang saya geluti sekarang.

Hal yang menjadi pertanyaan di kepala adalah “Apakah praktik yang terjadi di Pantai Gading dan Ghana juga terjadi di Indonesia?”. Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan. Data sekunder yang memperlihatkan Indonesia menjadi Negara ketiga penghasil kakao dunia mungkin bisa menjadi landasannya. Pendekatan sederhana yang kita bisa pakai adalah, Apabila Indonesia menghasilkan kakao terbanyak ketiga berarti banyak lahan kakao yang produktif dan membutuhkan pekerja (petani), dari banyaknya pekerja yang dibutuhkan apakah ada atau tidak pekerja anak di dalamnya?

Definisi ‘anak’ menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yaitu seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dan Undang-Undang ini mempertegas bahwa anak tidak boleh dijadikan pekerja sebelum memasuki usia 18 tahun. International Labour Organization (ILO) Jakarta bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan hasil survei pada tahun 2010 dan temuan 1,76 juta merupakan pekerja anak dari sekitar 58,8 juta anak berusia 5-17 tahun. Angka yang sangat tinggi ini memberikan penjelasan bahwa masih banyaknya pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 yang terjadi di Indonesia.

Temuan ILO Jakarta dan BPS walaupun ada kesamaan dengan temuan Mistrati di Afrika yang menyangkut pekerja anak tetapi terdapat perbedaan pula. Secara umum persamaan kedua temuan ini adalah adanya pelanggaran tentang pekerja anak yang faktor utamanya karena masalah ekonomi. Tetapi perbedaan pada temuan keduanya adalah di Afrika pekerja anak merupakan korban perdagangan dan perbudakan sedangkan di Indonesia disebut enkulturasi.

Zahratul Husaini dalam skripsinya menjelaskan pengertian enkulturasi adalah suatu proses di mana seorang individu menyerap cara berfikir, bertindak yang merasa mencerminkan kebudayaanya. Misalnya keluarga yang berusaha menanamkan nilai-nilai kemandirian pada anak. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga mempengaruhi setiap tindakan seorang anak di dalam masyarakat. Anak akan terdokma dengan nilai kemandirian yang mengesampingkan usianya untuk bekerja.

Walaupun ada perbedaan pola pekerja anak seperti penjelasan di atas, Indonesia harus siap dengan kemungkinan terburuk terjadinya perdagangan dan perbudakan anak untuk kebutuhan yang berskala industri. Selain mengantisipasi kemungkinan terburuknya, selayaknya pemerintah berbenah untuk mengurangi angka pekerja anak di Indonesia dari data tahun 2010 sesuai dengan temuan ILO Jakarta dan BPS untuk mencapai target “Indonesia Bebas Pekerja Anak di Tahun 2022”.

Dimuat juga di BaKTI News Edisi Maret-April 2016. www.bakti.or.id

Referensi:

  1. AFRIKA: The Dark Side of Chocolate , Kate McMahon
  2. CorpWatch , http://bit.ly/CorpWatch
  3. http://www.cocoainitiative.org/en/documents-manager/english/54-harkin-engel-protocol/file
  4. http://www.ilo.org/jakarta/info/public/pr/WCMS_122351/lang–en/index.html
  5. https://www.youtube.com/watch?v=7Vfbv6hNeng
  6. Husaini, Zahratul. 2011/ Pekerja anak di bawah umur, Studi kasus : Enkulturasi Keluarga Pekerja Anak di Kota Padang, Skripsi Jurusan Antroplogi Universitas Andalas.
  7. Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s