Desa Terpencil: Analisis Potensi dengan Mata Cacing


Membayangkan desa, gambaran yang akan muncul di kacamata warga kota adalah suasana yang damai, angin yang sejuk dan kehidupan yang tentram. Gambaran lainnya tentang pagi yang dingin dibalut hangat mentari pagi, dikala senja jingga perlahan membingkai deretan pepohonan di rimbunnya hutan lindung diiringi senandung hewan-hewan menyambut malam. Tetapi semua bingkai dalam gambaran warga kota teralihkan dengan cipratan warna hitam kelam dengan realita yang ada. Masalah kemiskinan, infrastruktur, tingkat putus sekolah atau buta huruf yang tinggi, dan kesehatan.  Beberapa hal ini yang sering menjadi buah tangan (fenomena) yang pahit dari beberapa buah tangan yang manis ketika warga kota berkunjung ke desa-desa yang bisa dikategorikan terpencil.

Fenomena yang diidentifikasi dengan mata elang yang hanya melihat jauh di atas permukaan merupakan salah satu kesalahan dalam mengidentifikasi fenomena yang terjadi di permukaan. Ini dipertegas oleh Prof. Yunus, penggagas Grameen Bank. Bahwa fenomena yang terjadi dalam sebuah komunitas (baca: masyarakat) harus dilakukan dengan pendekatan mata cacing yang melihat langsung di permukaan dan di dasar permukaan tidak hanya melihat dengan pendekatan mata elang yang hanya melihat jauh di atas permukaan.

Mata Elang (Parsial) & Mata Cacing (Holisitik)

Melihat fenomena dengan pendekatan mata elang akan menyebabkan parsialisasi (terpisah) sebuah fenomena komunitas. Contoh kecilnya, melihat sebuah fenomena buta huruf atau putus sekolah yang tinggi dalam sebuah komunitas berarti fenomena ini disebabkan kurangnya fasilitas pendidikan atau tenaga pendidik. Hal ini akan dipandang sebagai sebuah masalah dalam sebuah komunitas yang selanjutnya akan ditindak lanjuti dengan menggunakan pendekatan analisis masalah. Sederhananya masalah akan terpecahkan apabila ada jalan keluar, seperti contoh fenomena tingginya angka buta huruf dalam komunitas akan terpecahkan dengan menyediakan fasilitas pendidikan dan tenaga pendidik yang cukup dari pemerintah untuk komunitas tersebut.

Analisis masalah yang digunakan dalam komunitas pastinya memberikan efek positif tetapi harus dicatat baik-baik bahwa cara ini hanya akan membuat sebuah komunitas dipandang dan memandang dirinya sendiri sebagai sebuah komunitas yang tak mampu memaksimalkan potensi yang mereka miliki yang berujung terbentuknya sebuah komunitas bermental pemalas dan pengemis yang kecanduan akan bantuan dari pemerintah dan non pemerintah.

Berbeda halnya dengan melihat fenomena komunitas dengan mata cacing. Dengan pendekatan ini sebuah fenomena akan dilihat secara holistik (utuh), melihat fenomena angka buta huruf yang tinggi tidak hanya dipandang sebagai masalah pendidikan semata tetapi melihat keterkaitan dari segmen satu dengan yang lainnya yang menjadi penyebab angka buta huruf tinggi. Akan ada kaitannya dengan infrastrukur, ekonomi dan teknologi, dsb. Pendalaman fenomena akan mengarah pada pengkajian ke segmen lainnya bukan hanya terfokus pada pendidikan.

Contoh sederhananya, angka buta huruf atau putus sekolah tinggi karena fasilitas dan tenaga pengajar tidak layak bahkan tidak ada, berarti ini menyangkut fasilitas pendidikan dengan kebijakan pemerintah (politik). Kaitan pendidikan dengan ekonomi bisa ditinjau dengan melihat pendapatan sebuah komunitas, kebanyakan anak-anak dan remaja tidak bersekolah karena tidak memiliki biaya sekolah yang cukup atau anak-anak dan remaja lebih memilih membantu keluarga untuk mencari pendapatan dibandingkan bersekolah. Hal lainnya yaitu kaitan ekonomi dengan infrastruktur, pendapatan suatu komunitas di bawah angka pendapatan komunitas pada umumunya dapat dilihat dari infrastruktur. Akan berbeda pada hitungan kuantitatif sebuah komunitas yang infrastruktur jalan dan pasar yang baik dibandingkan yang tidak, hal ini kembali lagi kepada hadirnya pemerintah dalam kebijakan-kebijakannya. Itulah pentingnya pengkajian secara holistik (utuh), sebuah fenomena bisa dilihat dari semua segmen dan mencari pemecahannya secara utuh.

Analisis Potensi

Pendekatan mata cacing dan holistik pun tidak cukup dalam memecahkan fenomena dalam sebuah komunitas. Fenomena harus dianggap sebagai sebuah tantangan dalam sebuah komunitas bukan menjadi masalah. Fenomena yang dianggap sebagai sebuah masalah akan kembali lagi membentuk sebuah komunitas yang dianggap dan menganggap dirinya tidak memiliki potensi yang bisa diberdayakan. Masalah yang muncul akan ditutupi dengan pemecahan masalah (bantuan) setelah itu selesai. Muncul masalah yang lain diselesaikan dengan cara yang sama, dengan kata lain sebuah komunitas hanya berjalan di lingkaran kelam yang dibuatnya sendiri ataupun dibuat oleh pemerintah. Hal ini akan menghilangkan modal besar yaitu kepercayaan diri sebuah komunitas untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan maksimalisasi potensi dirinya sendiri.

Fenomena harus dianggap sebagai tantangan. Dari tinjau Psycholinguistics, penggunaan diksi akan mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang atau komunitas. Diksi “tantangan” akan bermakna bahwa sebuah komunitas memiliki potensi ekonomi, manusia dan potensi lainnya karena adanya potensi berarti ada tantangan yang baik dan tidak dalam mengembangkan potensi tersebut. Berbeda halnya dengan diksi “masalah”, diksi ini akan menimbulkan makna bahwa komunitas tersebut adalah komunitas yang bermasalah (sakit/rusak) lebih kepada makna negatif.

Dengan memahami bahwa fenomena yang terjadi dalam sebuah komunitas terdapat tantangan untuk dikembangkan maka akan terbangun sebuah modal komunitas yang kuat yaitu kepercayaan diri komunitas. Kepercayaan diri akan potensi dan pengembangan potensi yang dimiliki. Kepercayaan diri akan menghasilkan komunikasi efektif dan semangat gotong royong yang sangat kuat antar anggota komunitas. Dengan sendirinya komunitas dapat memetakan sendiri tantangan dan langkah-langkah strategis yang akan dilakukan. Selain itu komunitas akan memahami dan menyampaikan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjawab tantangan yang dihadapinya dengan kekuatan kebijakan-kebijakan yang bersinergi, sehingga tercapainya pertalian kuat society, government dan market menuju the great nation.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s