Kepingan Cerita di Balik Es Tebu


Kedua tangan terasa dekat tungku pembakaran dengan bara memerah, ketika mengendarai motor di jalan utama Perintis Kemerdekaan, Makassar. Musim yang memasuki kemarau, hawa aspal yang panas menyengat dari bawah, ditambah lagi asap kendaraan bermotor melengkapi betapa gerah dan kusamnya siang itu. Lampu lalu lintas – yang berada di bekas Tugu Adipura Tello – berubah  dari warna kuning menjadi merah, tanpa ada aba-aba semua kendaraan berhenti. Ketika menunggu lampu hijau menyala, saya memperhatikan pengendara di samping kanan-kiri, ternyata bukan hanya saya yang merah kusam dan gerah siang itu, terlihat dari ekspresi pengendara motor dengan wajah meringis dan berminyak.

Di kejauhan tampak spanduk sekira berukuran satu kali satu meter, spanduk ini didominasi warna hijau dan terdapat tulisan “Juice Tebu Segar”  yang terikat erat di samping bak motor beroda tiga. Seketika perasaan yang gerah berubah menjadi segar layaknya perasaan seorang musafir yang berjalan di padang pasir menemukan sebuah oase. Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, pandangan saya tak lagi ke kiri dan ke kanan tetapi fokus ke depan ingin segera mungkin tiba di tempat spanduk itu berada.

Lelaki berkumis yang mengenakan topi rimba berwarna hitam di kepalanya memberi senyum ke arah saya ketika berhenti di depan spanduk tadi. Motor saya tepikan lalu memesan segelas es tebu. Dengan cekatan bapak tadi menaiki bak motor beroda tiga lalu duduk di sebuah kursi yang di hadapannya terdapat sebuah kotak – berbentuk balok yang berdiri – berwarna hijau lebarnya sekira setengah meter dan tinggi semeter, di dalam kotak itu terdapat mesin yang digunakan untuk memeras tebu yang masih dalam bentuk batang. Diraihnya sebatang tebu yang berukuran sekira satu meter lalu dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang terdapat di bagian atas kotak hijau tadi. Tak sampai lima menit untuk memeras air tebu dari batangnya dan disajikan dalam gelas minuman. Sekali lagi senyum ramah diberikan oleh bapak tadi ketika menyerahkan segelas es tebu.

Ini bukan pertama kalinya saya menikmati perasan air tebu dari bapak bertopi rimba ini, hampir di Senin, Rabu, dan Jumat siang setiap pekannya ketika selesai mengajar, saya menyempatkan untuk mampir menikmati es tebu miliknya. Tempat mangkal untuk menjajakan es tebu berada tak jauh dari lampu lalu lintas Adipura Lama, Jln utama perintis kemerdekaan dekat dari pintu masuk Perwakilan Bus Lyta.

Pak Ari, lelaki yang sekira umurnya menghampiri enam puluh tahun. Topi rimba berwarna hitam, baju kaos kerah bergaris-garis membalut badannya dan yang khas selain topi rimbanya adalah tas pinggang yang selalu melilit di pinggulnya. Sudah tiga tahun ia menekuni profesi sebagai penjual es tebu. Sebelum berprofesi sebagai penjual es tebu, ia hanya menjual barang campuran kebutuah sehari di rumahnya yang berada di daerah Limbung, Kabupaten Gowa. Ide membuka usaha es tebu didapatkan berdasarkan pengamatannya di pinggir jalan Ibu Kota Jakarta yang banyak menjajakan es tebu pada tahun 2013. Lima bulan lamanya Pak Ari di Jakarta, ia memutuskan untuk membeli mesin pemeras tebu seharga empat juta pada waktu itu untuk dibawa kembali ke Makassar.

Menurut penuturan Pak Ari, ia adalah orang kedua yang menjual es tebu di Makassar, orang yang pertama – tidak sempat saya tanyakan namanya – telah berhenti menjual karena usianya sudah lanjut. Sekarang, ada sepuluh penjual es tebu yang tersebar di Makassar, ada tiga lokasi jualan mereka yang disebut oleh Pak Ari yaitu di daerah Perintis Kemerdekaan 7 (dekat STMIK Dipanegara), depan Pesantren IMMIM Makassar, dan Pantai Losari.

“Kalau hari Jumat, di Mesjid Al Markas ka menjual saya sampai jam dua, nanti jam-jam tiga baru di sini. Hari Minggu di Pantai Losari ka, tapi sampai jam sepuluhji karena kalau lewatmi, biasa nausir meki Satpol PP.” Dengan semangat Pak Ari menjelaskan kepada saya.

Kebiasaan menikmati es tebu di Makassar khususnya, mungkin tidak sepopuler di daerah-daerah pulau Jawa. Dari pengalaman saya ketika di daerah Jawa Timur selama empat bulan, sangat mudah sekali dijumpai penjual-penjual es tebu di pinggir jalan dibandingkan di Makassar, harganya pun relatif murah hanya dua ribu rupiah sedangkan di sini dihargai lima ribu rupiah segelas. Faktor lain bisa jadi karena tersedianya bahan baku, Jawa Timur yang menjadi provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia memiliki luas tanam dan produksi sangatlah besar. Data dari Direktorat Jendral Perkebunan tahun 2014, Jawa Timur mememiliki luas tanam 212.139 ha dan produksi sebanyak 1.262.473 ton, Sedangkan di Sulawesi Selatan hanya memiliki luas tanam 11.891 ha dan produksi 32.913 ton, sangat jauh di bawah dibandingkan Jawa Timur.[1]

Pak Ari pun berbagi cerita mengenai kendala bahan baku usahanya. Setiap pekan ia mendatangi petani tebu di daerah Polongbangkeng, Kabupaten Takalar untuk memenuhi bahan baku es tebunya. Sekali beli ia menghabiskan biaya sebanyak satu juta untuk mengisi penuh bak belakang motor roda tiganya, tebu sebanyak itu dihabiskan hanya dalam sepekan.

“Langsungka beli sama petani di Polongbangkeng tapi bukan yang dikasi masuk ke pabrik gula, beli sama petani yang tanam sendiri (lahan pribadi), susah kalau mau beli yang untuk pabrik karena ada pengawasnya.” Jelas Pak Ari.

Terkadang ia harus rehat sejenak untuk menjual es tebu, karena tidak tersedianya bahan baku. Ketika masa panen tiba, tebu tersedia untuk usahanya tetapi ketika musim tanam, terkadang Pak Ari harus menunggu enam bulan lamanya untuk mendapatkan tebu. Lelaki paruh baya ini juga menjelaskan lambatnya masa panen lahan yang digarap pribadi (masyarakat) dibandingkan perusahaan, untuk lahan pribadi masa panen bisa mencapai enam bulan sedangkan lahan yang digarap oleh perusahaan bisa lebih cepat dari pada itu.

Pak Ari melanjutkan ceritanya tentang konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan di daerah itu, dan pihak yang awalnya mendukung perjuangan masyarakat seketika berubah saat mereka menjadi wakil rakyat.

“Banyak kodong lahannya petani diambil, padahal hak miliknya itu petani, perusahaan na sewaji saja, ada tong beberapa orang dulu sering dukungki masyarakat di sana, tapi sudah dudukmi jadi anggota dewan nda na urusmi itu masyarakat, enakmi mungkin di kursinya sekarang.” Tawa miris diperlihatkan di akhir penjelasannya.  

Di Polongbangkeng, Takalar memang ada sebuah perusahaan berpelat merah yang beroperasi sejak 1980, PT Perkebunan Nusantara XIV.  Perusahaan ini memiliki tiga unit pabrik salah satunya di Pabrik Gula (PG) Takalar, dan dua lainnya berada di PG Bone dan PG Camming.

Sependek pengatahuan saya, PG Takalar memang sudah lama terjadi konflik (sengketa lahan) antara masyarakat dengan perusahaan sejak tahun 2008-sekarang. Pernah suatu sore, entah bermula dari mana perbincangan saya dengan Eko Rusdianto – salah satu jurnalis yang banyak mengisi media kredibel seperti Historia, Mongabay, dan Pindai – hingga sampai pada pengalamannya ikut serta dalam aksi masyarakat di Polongbangkeng.

Ia mulai menceritakan seorang tokoh wanita bernama Daeng So’na yang tergabung dalam Serikat Tani Polongbangkeng – terbentuk sejak tahun 2006 dan resmi pada tahun 2009 – yang memiliki semangat jauh melebihi semangat para lelaki dalam mempertahankan lahan mereka melawan pihak keamanaan sewaan perusahaan, aksi yang terjadi 25 Oktober 2014 diikuti 802 orang berasal dari delapan desa. Dalam aksi ini mereka didampingi oleh beberapa organisasi seperti Wahana Lingkungan Hidup, Lembaga Bantuan Hukum Makassar, Perkumpulan Mahasiswa, Aliansi Gerakan Reformasi Agraria, dan KontraS. Aksi ini merupakan aksi susulan setelah setahun sebelumnya masyarakat dengan dampingan beberapa lembaga berhasil merebut 800 ha dari 7.970 ha yang diklaim oleh perusahaan.[2]

Dari segelas es tebu siang itu membawa sebuah perenungan betapa pentingnya kita menghargai apapun yang sekarang kita nikmati. Salah satu dari banyak nikmat yang kita rasakan yaitu tebu. Di balik gula yang kita nikmati untuk pemanis minuman dan makanan setiap harinya tersimpan kepingan kisah yang tidak semanis rasanya. Kepingan kisah tentang perjuangan manusia untuk menafkahi hidupnya dengan berjualan es tebu, tentang perjuangan masyarakat melawan penindasan serta tokoh-tokoh yang bergerak di level bawah. Panjang umur Pak Ari dan perjuangan masyarakat Polongbangkeng serta para penggeraknya.

 

Tulisan i ini dimuat juga di http://makassarnolkm.com/segelas-kisah-es-tebu-polongbangkeng/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s