Memori Surau di Kampung


Pendidikan Agama khususnya mengaji ketika masih kecil, saya dapatkan bukan hanya di bangku sekolah tetapi juga di Surau. Pada saat itu belum ada Taman Kanak-Kanak Alquran (TKA) atau Taman Pendidikan Alquran (TPA), jadi pilahan kami sebagai anak kampung hanya satu yaitu belajar mengaji di Surau. Saya menjadi salah satu murid di Surau milik Kakek, walaupun saya cucunya, beliau tetap menyamakan saya dengan murid lainnya sebagai manusia yang ingin belajar. Beberapa memori yang masih saya ingat ketika belajar bersama teman-teman di Surau beliau.

Laki-Laki Mengisi Bak Air

Mengisi bak air Sang Guru adalah sebuah kewajiban bagi anak laki-laki di tempat saya mengaji. Ini adalah ritual pertama yang harus dilaksanakan sebelum mengaji. Jadi kami (anak laki-laki) harus mengisi penuh semua wadah air yang ada di rumah beiau, mulai dari wadah air yang ada di dapur sampai kamar mandi.

Sekarang mungkin agak mudah dibandingkan dulu, saluran air milik Perusahaan Air Minum (PAM) sudah terpasang hampir di semua rumah di kampung saya, sedangkan dulu… kami harus menimba air dari sumur tanpa katrol, menampungnya dalam ember lalu mengangkatnya ke rumah panggung Sang Guru, jarak sumur dan rumah itu sekitar dua pulu meter. Lumayan berotot dan sehat lah kami ini saat mengaji dulu. Hahaha…

Perempuan Bersih-bersih

Ketika anak laki-laki mengisi bak air, anak perempuan membersihkan pekarangan dan rumah milik guru kami. Aktivitas ini sudah ditentukan sejak hari pertama kami menjadi murid, untuk perempuan diserahkan tugas membersihkan pekarangan dan rumah sedangkan laki-laki mengerjakan tugas di atas tadi. Selain membersihkan pekarangan dan rumah, perempuan biasanya membantu istri atau anak guru kami menyiapkan makan siang dan merapikan meja makan setelahnya.

Setelah semua wadah air terisi penuh dan anak perempuan selesai bersih-bersih, barulah kami berwudu dan memakai sarung masing-masing sebelum melanjutkan bacaan Alquran kami sebelumnya, rutinitas ini berulang selama kami menjadi murid di tempat mengaji ini.

Alquran Besar dan Kecil

Di tempat saya belajar mengaji, ada dua tingkatan yang harus kami tamatkan. Pertama, kami harus menamatkan Iqro dan Juz Amma (juz 30) – kami biasa menyebutnya Alquran Kecil – setelah itu melanjutkan ke Alquran Besar (juz 1 – 30). Istilah Alquran Besar dan Kecil, mungkin dipakai untuk menyederhanakan bahasa kepada kami agar mudah dimengerti dan dari ukurannya juga, di tingkat pertama kitab yang kami pakai ukurannya kecil sedangkan yang kedua ukurannya lebih besar.

Saya masih ingat ketika menamatkan Alquran Kecil, sesampainya di rumah saya menyampaikan hal ini, orang tua memberi selamat dan menyampaikan bahwa masih ada tingkatan kecua yang harus saya tamatkan. Walaupun jumlahnya lebih banyak, tapi saya lega menyelesaikan tingkatan pertama, karena di tingkatan ini selain harus membaca dengan tepat harus juga dihafal. Sedangkan di tingkatan kedua, penekanannya cukup dibaca dengan tepat.

Paccawa

Paccawa begitu kami menyebutnya, kalau padanan kata kerennya sekarang itu Pen Alquran (untuk Alquran Digital). Paccawa atau alat bantu tunjuk ketika mengaji yang kami gunakan dari ranting pohon bambu yang sudah mengering. Warnanya cokelat pucat bentuknya kebanyakan melengkung dan memiliki ruas-ruas layaknya batang bambu.

Kriteria ranting bambu yang bisa digunakan sebagai paccawa itu harus memiliki bentuk yang unik dan cantik, dan yang paling penting harus “lulus”, cara mengujinya yaitu dengan menyebutkan mantra ini “TemmeDe’…” (Tamat… Tidak…). Jadi ranting yang lulus dari mantra ini, ruas terakhirnya harus sesuai dengan penyebutan “temme”. Jika ruas terakhir sama dengan penyebutan “De’”, biasanya kami maka memutar mantranya dari “De… Temme’…”, ini biasa kami lakukan ketikan mendapatkan ranting bambu yang unik dan cantik, makanya kami memaksanakan agar ruas terakhirnya itu sama dengan “temme”. Hahaha…

Kenapa harus akhir dari ruas itu harus “Temme” karena katanya… agar kami cepat tamat/lulus (khatam Alquran), entah dari mana pengetahuan itu kami dapat. Tapi itu menjadi salah satu kenangan yang unik di masa masih belajar mengaji.

Mappanre Guru

Apakah itu Mappanre Guru? Ini adalah sebuah acara sykuran yang dilaksanakan ketika seorang murid telah khatam Alquran. Keluarga dari murid akan menyiapkan beberapa jenis makanan seperti sokko lotong (olahan beras ketan hitam), sokko pute (olahan beras ketan putih), likku manu (olahan ayam dicampur lengkuas), utti lampe (pisang tanduk). Makanan ini dan beberapa tambahan lainnya akan diantarkan langsung ke rumah Sang Guru di hari yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam acara ini biasanya Sang Guru akan membacakan beberapa doa untuk muridnya agar kelak ilmu yang diajarkan berguna untuk dirinya dan orang lain. Mappanre Guru merupakan sebuah tanda akan pencapaian seorang murid dari proses belajarnya dan juga sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Guru yang telah membimbing selama belajar, begitu kata Kakek saya.

 

Tulisan diikutkan dalam #Tantangan5 #KMKepo kelas kepo.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s