Before the Flood


September 2014, aktor kawakan Leonardo DiCaprio dinobatkan oleh Ban Ki-moon selaku Sekjen PBB menjadi United Nation Massenger of Peace on Climate Change (Duta Damai PBB) yang khusus mengkampanyekan perubahan iklim. Terpilihnya Leo sebagai duta PBB mengharuskan dia mengelilingi semua benua (beberapa negara) yang memiliki peran penting – negara yang mengalami kerusakan lingkungan besar – terhadap perubahan iklim dunia yang disebabkan eksplorasi sumber energi fosil, penebangan dan kebakaran hutan .

Perjalanan Leo ini diabadikan oleh National Geographic bekerja sama dengan Ratpac Documentary Films menjadi sebuah film dokumenter yang berjudul Before the Flood. Berikut ini beberapa negara yang dikunjungi oleh Leo sebagai United Nation Messenger of Peace on Climate Change dalam film dokumenter Before the Flood.

Kanada
Negara pertama yang dikunjungi oleh Leo dalam film ini adalah Kanada. Di Kanada dia mendapatkan gambaran nyata penebangan hutan, yang telah mulai dilakukan pada pertengahan tahun 1960 untuk pengeboran minyak di bawah permukaan hutan yang telah digundul habis. Mengamati dari helikopter, Leo mengatakan lahan yang telah menjadi daratan hitam akibat pengeboran minyak seperti daratan dalam film Lord Of The Ring, hitam ala Mordor.

Amerika

Negara tujuan selanjutnya adalah negaranya sendiri tepatnya di kota Miami. Leo mengunjungi kota ini untuk melihat langsung akibat dari perubahan iklim yang terjadi di sini yaitu banjir. Miami Mengunakan pompa air untuk menghilangkan genangan banjir. Banjir sering terjadi karena kota tersebut sebenarnya sudah dibawah permukaan laut. Kota melakukan peninggian jalan, untuk menghindari banjir.

Dalam film ini Walikota Miami mempertanyakan para politisi tidak menyebutkan masalah kota yang menjadi wakil mereka di parlemen, dugaan walikota ada tekanan dari perusahaan minyak besar di Amerika, bahkan dibantah oleh Rubio (salah satu politisi) yang tidak percaya dengan perubahan iklim, perubahaan iklim tidak berdampak signifikan.

Ucapan politisi tersebut tercatat di film ini. Bahkan seorang ilmuwan Profesor Michael Mann yang memperingatkan tentang perubahan iklim, diserang oleh media dan politisi sampai di intimadasi. Disebutkan dalam film tersebut perusahaan minyak mendanai aksi untuk tidak mempercayai perubahan iklim. Uang, perusahaan dan politisi di Amerika berbicara.

China
China sebagai salah satu negara industri terbesar di dunia telah menyumbang polusi cukup besar. China pun dikenal sebagai pabrik dunia yang memproduksi produk untuk barat. Ada sekitar 9.000 perusahaan menurut Ma Jun selaku pendiri Institusi Publik – institusi yang mengawasi industri di China – yang ditemui oleh Leo di sana. Dan semua perusahaan ini menggunakan batu bara sebagai pembangkit utama produksinya berlokasi di kota Beijing dan Shandong.

Leo kaget ketika Ma memberikan perbandingan konsumsi batu bara di China dengan Amerika. Perbandingannya untuk konsumsi batu bara kedua kota ini (Beijing dan Shandong) itu setara konsumsi batu bara satu negara Amerika. Ma melanjutkan percakapannya dengan Leo tentang kekhawatiran masyarakat China khususnya di daerah sepanjang garis pantai Timur perihal efek yang ditimbulkan dari polusi industri terhadap kesehatan masyarakat.

Dari keresahan inilah Ma melakukan langkah cerdas dengan bekerja sama media yang mempublikasikan data valid tentang polusi industri dan efeknya kepada masyarakat, dengan begitu masyarakat dapat mendesak pemerintah untuk menggunakan energi terbarukan seperti panel surya dan kincir angin yang dapat menekan polusi industri.       

India
Di negara ini Leo berdiskusi dengan Sunita Narain dari Pusat Sains dan lingkungan. Leo menggali data dan informasi, mengapa India menduduki posisi ke tiga negara penyumbang polusi dunia. Sunita menjelaskan bahwa mereka peduli dengan perubahan iklim tapi faktanya adalah pemenuhan akses energi sama menantangnya dengan perubahan iklim, India negara berkembang, masih banyak penduduk yang belum mendapatkan akses energi (listrik). Sekitar tiga ratus juta penduduk India belum mendapat akses tersebut, itu setara dengan seluruh populasi Amerika seperti yang ditegaskan oleh Leo.

Untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi (listrik) di India, pemerintah harus memastikannya murah dan salah satu jalan keluarnya adalah pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi dan India memiliki cadangan yang cukup banyak. Dan telah diketahui bersama bahwa batu bara sebagai sumber energi menghasilkan polusi yang cukup besar dan memberikan efek pada perubahan iklim dunia. Tetapi hal yang menarik pada kunjungan Leo di India yaitu kritikan dari Sunita, banyak Ilmuan dari Amerika yang merekomendasikan untuk beralih ke energi terbarukan seperti panel surya dan kincir tetapi Amerika tidak mencontohkan lebih di bandingkan India apalagi dibandingkan China dan Denmark. Dan Amerika tetap menjadi negara penyumbang polusi terbesar di Dunia.

Indonesia
Indonesia merupakan negara yang telah dikunjungi oleh Leo karena negara ini memberikan sumbangan polusi dari kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan.

Pada kunjungannya ke Sumatera, dia didampingi oleh Linsey Allen, dari perlindungan hutan. Linsey mengatakan hutan adalah paru paru dunia, Gas CO2 diserap oleh hutan, dan pohon membantu membersihkan gas CO2. Ketika kita memperluas lahan dengan cara membakar hutan, sama saja mengembalikan polusi gas CO2 sangat besar ke atmosfer sampai dua kali lipat polusi yang ditimbulkan, itulah sebabnya Indonesia memberikan sumbangsi polusi cukup besar.

Dalam film ini Leo sempat melihat kebakaran dan kabut asap di Sumatra ditemani Farwiza Farhan dari yayasan Haka. Dan Farwiza hanya mengatakan selamat datang di Sumatra. Perambahan hutan disebabkan perusahaan yang memperluas area perkebunan sawit  sebagai bahan baku memproduksi minyak goreng lebih murah, membuat bahan kosmetik, sabun pembersih, dan produk lainnya. Film ini juga menampilkan data 80% hutan sudah diambil perkebunan swasta. Perusahaan ini menyuap pejabat pemerintah untuk membuka lahan dengan cara membakar hutan, kurangnya pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan ini menyebabkan cukup besar peluang kebakaran hutan di Indonesia.

Di akhir film, Leo menyampaikan temuannya setelah berkeliling beberapa negara di kota New York pada acara Paris Climate Accord Signing yang dihadiri oleh seluruh anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam acara ini semua negara anggota PBB menyetujui isu perubahan iklim merupakan isu bersama dan harus ditanggapi secepat mungkin di setiap negara seperti pengalihan sumber energi fosil ke sumber energi terbarukan dan pengawasan ketat terhadap perusahan industri.

Tulisan diikutkan dalam #Tantangan5 #KMKepo kelas kepo.org

 

Iklan

One thought on “Before the Flood

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s