Simulakra Sepakbola


“Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepakbola kini dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?”_ Zen RS

SIMULAKRA SEPAKBOLA karya Zen RS merupakan buku pertama tentang sepakbola yang saya baca. Ketika melihat judul buku ini, saya yakin banyak pembaca yang akan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring ataupun luring untuk mengetahui arti kata ‘Simulakra’. Sayangnya kosakata ini belum ada dalam KBBI, Saya kurang tahu apakah kata itu belum baku, entahlah. Terkecuali jika pembaca mencarinya di mbah google, akan muncul banyak hasil pencarian yang berisi kata ‘simulacra’. Dan pembaca tak perlu khawatir untuk satu kata di atas, karena penulis membahasnya pada satu bagian dalam bukunya.

Poin yang ingin sampaikan bahwa dari judul bukunya saja menarik perhatian kita selaku pembaca, dan itu berbanding lurus antara judul dan isi buku, membuat pembaca menelaah lembar demi lembar, bab demi bab, sampai berakhir di lembaran profil singkat penerbit buku ini (terakhir).

Buku ini dibuka dengan memori remaja penulis akan sepakbola sebagai pemain dan supporter. Beberapa bagian awal buku cukup enteng lah untuk dibaca tetapi memasuki halaman puluhan, pembaca akan dibawa ke lorong-lorong sepakbola yang mungkin pembaca tidak ketahui. Sosial, politik, ekonomi, sastra, seni, sejarah, beberapa teori kiri, dan masih banyak diksi-diksi yang membuat pembaca sesekali mengerutkan kening dan lebih intens menyeruput kopi (ini berlaku untuk saya).

Menggeledah sejarah dengan pintu masuknya sepakbola dalam konteks ruang dan waktu, itu yang bisa saya ujarkan setelah membaca buku ini. Pembaca akan dibawa pada masa kolonial sampai modern, bukan hanya di Indonesia tetapi di beberapa Negara Eropa dan Amerika Latin.

Sepakbola sebagai olahraga tidaklah bebas nilai, begitulah kata Zen. Di era kolonial, Belanda menjadikannya legitimasi politik menguatkan hegemoni. Persaingan yang berlangsung hingga sekarang antara Real Madrid dan Barcelona juga dibahas dari pangkal sejarahnya.

Salah satu bagian favorit saya dalam buku ini “Kesebelasan Para Bapak Bangsa”. Bagian ini, Zen membentuk sebuah kesebelasan Bapak Bangsa Indonesia dengan menggunakan formasi 3-5-2. Dalam bagian ini, Zen juga menjelaskan mengapa memilih pemain dan memposisikan berdasarkan karakter dan kemampuan yang mereka miliki. Setelah membaca bagian ini saya berimajinasi, bagaimana jadinya, jika kesebelasan ini betul-betul bermain di lapangan hijau.

Seperti ini susunannya: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (Kiper), HOS Tjokroaminoto (Bek Tengah 1), Tjiptomangoenkosoemo (Bek Tengah 2), Douwes Dekker (Bek Tengah), Soedirman (Gelandang Bertahan), Musso (Wingback Kiri), Agoes Salim (Wingback), Tan Malaka (Gelandang Serang), Soetan Sjahrir (Gelandang Serang), Mohammad Hatta (Penyerang), dan Sukarno (Penyerang).

Yang menjadi pertanyaan saya kemudian adalah “Mengapa Zen menggunakan formasi ini, mengapa bukan formasi yang lain?”

Selain menjadi sejarawan yang ulung, Zen juga seperti guru filsafat dan sastra yang piawai menyuguhkan pembaca, diksi-diksi yang mungkin asing tapi sarat makna. Mempertalikan antara teori sosial, ekonomi, arsitektur, seni, sastra dengan sepakbola menjadi satu bagian yang utuh.

Sebagai penutup saya ingin mengajukan pertanyaan kepada penulis, semoga penulis sudi untuk menjawabnya pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan: “Mengapa ada beberapa orang yang mengatakan musyrik kepada orang yang ziarah pada tempat yang dikeramatkan untuk berdoa dari tengah malam sampai subuh padahal ada persamaan dengan orang yang bedagang untuk menyaksikan pertandingan klub bola andalannya melalui layar televisi tapi tidak ada dikatakan musyrik?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s